
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Australia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (28/8) setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei. AUD/USD turun sekitar 0,3% ke area 0,7170, setelah sempat mencapai 0,7206, karena permintaan terhadap greenback meningkat menyusul komentar hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Warsh menegaskan bahwa stabilitas harga harus tetap menjadi fokus utama The Fed. Ia menyebut bank sentral perlu yakin bahwa inflasi dasar benar-benar bergerak menuju target sebelum mengendurkan sikap. Warsh juga menegaskan bahwa target inflasi PCE sebesar 2% tetap “tegas dan tidak berubah”.
Meski mengakui data inflasi selama musim panas lebih baik dari perkiraan, Warsh menilai perbaikan tersebut belum cukup untuk menunjukkan perubahan fundamental dalam tren harga. Nada tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September, melonjak dari sekitar 36% sebelum pidato Warsh. Lonjakan ekspektasi rate hike tersebut mengangkat dolar AS sekaligus memberikan tekanan terhadap AUD/USD.
Dari Australia, dolar Aussie masih memperoleh sedikit dukungan dari prospek kebijakan Reserve Bank of Australia. Inflasi Juli memang turun menjadi 3,5% YoY dari 3,8%, tetapi masih di atas perkiraan 3,2%. Sementara Trimmed Mean CPI bertahan di 3,6%, lebih panas dibanding estimasi 3,5%, sehingga peluang kenaikan suku bunga RBA tambahan sebelum akhir tahun masih terbuka.
Analisis Newsmaker: AUD/USD saat ini berada dalam pertarungan dua bank sentral yang sama-sama menghadapi inflasi persisten. Namun, repricing agresif terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed membuat dolar AS untuk sementara lebih dominan. Selama AUD/USD belum kembali melewati 0,7200–0,7210, tekanan koreksi masih terbuka, sementara nada hawkish lanjutan dari The Fed dapat membawa pair turun lebih dalam. (yds)
Sumber: Newsmaker.id