
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah pada awal perdagangan Kamis dan memperpanjang penurunan untuk sesi keempat berturut-turut. Tekanan muncul karena pasar mulai menaruh harapan terhadap membaiknya pasokan dari Timur Tengah, seiring munculnya sinyal diplomasi baru di kawasan tersebut.
West Texas Intermediate atau WTI turun 0,5% ke US$81,83 per barel pada pukul 19.51 ET atau 23.51 GMT. Dalam tiga sesi sebelumnya, harga minyak telah terkoreksi sekitar 6%, menunjukkan aksi jual semakin kuat setelah reli besar sebelumnya.
Sentimen utama datang dari laporan bahwa Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan terkait jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Meski begitu, Teheran memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut belum tentu langsung berarti pembukaan penuh jalur strategis tersebut.
Harga minyak tetap melemah meskipun Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi yang lebih ketat terhadap Iran. Teheran mengecam langkah tersebut dan sebelumnya memperingatkan adanya potensi pembalasan, tetapi pasar lebih fokus pada peluang perbaikan hubungan diplomatik di kawasan.
Laporan lain juga menunjukkan adanya perkembangan positif dalam hubungan AS-Iran. Media pemerintah Rusia melaporkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan gencatan senjata baru yang dapat diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
Selain itu, Pakistan sebagai salah satu mediator utama di kawasan juga menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan damai dengan Iran. Sinyal-sinyal ini membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
Namun, kondisi di Selat Hormuz belum sepenuhnya normal. Data pelayaran menunjukkan arus kapal melalui jalur tersebut masih berada jauh di bawah level sebelum perang, padahal Hormuz sebelumnya menjadi jalur transit sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Iran juga menuduh Amerika Serikat menghambat kesepakatan dengan Oman untuk membuka kembali Hormuz. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun harapan diplomasi meningkat, risiko gangguan pasokan masih belum sepenuhnya hilang.
Analisis Newsmaker: Penurunan minyak saat ini mencerminkan pasar mulai mengurangi premi risiko setelah muncul harapan diplomasi di Timur Tengah. Namun, koreksi ini belum berarti risiko fundamental sudah selesai, karena arus kapal di Selat Hormuz masih jauh dari normal dan hubungan AS-Iran tetap rapuh. Selama WTI bertahan di atas area US$80, tekanan jual masih terlihat sebagai koreksi lanjutan setelah reli sebelumnya. Tetapi jika ada konfirmasi pembukaan Hormuz atau gencatan senjata baru, harga minyak bisa turun lebih dalam. Sebaliknya, jika kesepakatan gagal atau Iran kembali memberi ancaman balasan, minyak berpeluang rebound cepat. (asd)
Sumber: Newsmaker.id