
Trending

Gold Corner
Sumber: Newsmaker.id
RESUME PERGERAKAN GOLD & OIL
Periode 5 – 9 Oktober 2026
GOLD
Harga emas bergerak fluktuatif dengan tekanan utama berasal dari penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury AS yang sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kondisi tersebut membuat emas mengalami koreksi tajam sebelum akhirnya berbalik menguat, didukung oleh penurunan yield, melemahnya dolar, serta meningkatnya permintaan aset safe haven.
Pemulihan emas juga didorong oleh aksi bargain hunting, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, dan kekhawatiran terhadap tingginya utang pemerintah AS. Secara keseluruhan, emas spot mencatat kenaikan sekitar 1,3% dalam sepekan, sekaligus mengakhiri dua pekan penurunan beruntun. Fokus pasar berikutnya tertuju pada data inflasi CPI AS untuk menentukan arah kebijakan Fed dan pergerakan emas selanjutnya.
OIL
Harga minyak dunia bergerak volatil akibat tarik-menarik antara risiko gangguan pasokan dan upaya peningkatan suplai global. Meningkatnya ekspor minyak Timur Tengah serta rencana pelepasan cadangan minyak oleh G7 dan IEA sempat menekan harga. Namun, eskalasi konflik AS-Iran, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, dan gangguan produksi akibat Badai Isaias di Teluk Meksiko kembali mendorong kenaikan harga minyak.
Menjelang akhir pekan, tekanan geopolitik mulai mereda setelah Presiden Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela AS. Sementara itu, rencana China meningkatkan ekspor produk bahan bakar turut membatasi penguatan harga. Secara keseluruhan, minyak bergerak sangat fluktuatif, dengan arah pasar masih dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, kebijakan pelepasan cadangan strategis, dan kondisi pasokan energi global.
Skenario Gold Minggu Ini
Pergerakan harga emas (XAU/USD) pada pekan ini diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bearish, meskipun peluang penguatan jangka pendek tetap terbuka. Berdasarkan grafik Daily (D1), dengan harga penutupan sebelumnya di level US$4.194 per troy ons, emas masih menunjukkan struktur lower high atau pembentukan puncak harga yang semakin rendah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda, sementara pemulihan harga pada akhir pekan lalu belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren menjadi bullish.
Secara teknikal, emas berpotensi melanjutkan penguatan apabila mampu bertahan di atas level psikologis US$4.200 dan menembus resistance terdekat di US$4.217. Jika momentum pembelian meningkat, harga berpeluang menguji area US$4.250. Namun, apabila emas gagal mempertahankan support US$4.184–4.185, tekanan jual berpotensi kembali meningkat dengan target pelemahan berikutnya menuju US$4.150. Dengan demikian, pergerakan dalam rentang US$4.185–4.217 menjadi area penting untuk mengamati arah pergerakan emas dalam jangka pendek.
Dari sisi fundamental, arah pergerakan emas masih sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, yield Treasury, dan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Penguatan dolar serta kenaikan yield berpotensi membatasi kenaikan emas, sementara pelemahan kedua instrumen tersebut dapat memberikan ruang bagi pemulihan harga. Perhatian investor juga akan tertuju pada publikasi data inflasi konsumen AS (CPI) yang dijadwalkan pada 14 Oktober 2026. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar dan menekan emas, sedangkan inflasi yang lebih rendah dapat meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dan mendukung harga emas.
Secara keseluruhan, outlook emas pekan ini masih sideways cenderung bearish dengan peluang rebound terbatas. Meskipun emas berhasil mengakhiri dua pekan penurunan beruntun dengan penguatan sekitar 1,3% pada pekan sebelumnya, keberlanjutan pemulihan masih membutuhkan konfirmasi teknikal yang lebih kuat. Selama harga belum mampu menembus resistance utama secara meyakinkan, kenaikan berisiko menjadi pemulihan sementara di tengah tren korektif. Pergerakan dolar AS, yield Treasury, dan hasil inflasi AS akan menjadi faktor penentu apakah emas mampu melanjutkan rebound atau kembali menghadapi tekanan jual.
Sementara Pergerakan minyak Brent (BCO) pekan ini diperkirakan sideways dengan kecenderungan bullish terbatas, setelah ditutup di sekitar US$104 per barel pada pekan lalu. Berdasarkan grafik Daily (D1), minyak masih menunjukkan tren pemulihan, meskipun tekanan jual dan aksi ambil untung berpotensi membatasi penguatan harga.
Secara teknikal, resistance terdekat berada di area US$105–106. Jika berhasil ditembus, minyak berpeluang menguat menuju US$108–110. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan area US$102 dapat membuka peluang koreksi menuju US$100 per barel.
Dari sisi fundamental, ketegangan geopolitik Timur Tengah dan risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz masih menopang harga minyak. Namun, peningkatan ekspor minyak, rencana pelepasan cadangan strategis, serta meredanya ketegangan AS-Iran berpotensi menekan harga.
Secara keseluruhan, BCO masih berpeluang menguat selama bertahan di atas US$102, tetapi penembusan US$106 diperlukan untuk mengonfirmasi kenaikan lanjutan. Perkembangan geopolitik dan pasokan global akan menjadi penentu utama arah minyak pekan ini.
DISCLAIMER
Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi.