
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak melemah pada perdagangan Senin (12/10), berada di sekitar US$4.175 per troy ounce setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam sepekan. Penguatan Dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas, sementara investor mulai mengurangi posisi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat pekan ini.
Dolar AS masih bertahan di dekat level terkuat dalam 18 bulan karena didukung meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sikap hati-hati investor menjelang data inflasi. Kondisi tersebut membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor yang menggunakan mata uang selain Dolar. Selain itu, kenaikan Dolar juga meningkatkan tekanan terhadap aset safe haven lainnya.
Fokus utama pasar kini tertuju pada CPI dan PPI AS, disusul data penjualan ritel. Data yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi mendorong yield Treasury dan Dolar kembali naik, sehingga menjadi hambatan bagi Gold.
Meski demikian, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober telah menurun cukup tajam. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bulan ini berada di bawah 20%, sementara probabilitas kenaikan pada Desember masih sekitar 85%. Artinya, tekanan terhadap emas dari ekspektasi kebijakan The Fed mulai berkurang dalam jangka pendek, tetapi belum sepenuhnya hilang.
Newsmaker melihat, Gold saat ini berada dalam fase menunggu katalis besar. Selama Dolar tetap kuat dan yield Treasury tinggi, ruang penguatan emas masih terbatas. Namun, apabila CPI dan PPI menunjukkan pelemahan, ekspektasi pengetatan The Fed dapat kembali berkurang dan membuka peluang Gold untuk menguji kembali US$4.200. Sebaliknya, data inflasi yang panas berpotensi membawa emas kembali menguji area support di bawah US$4.180.
Sumber: Newsmaker.id