
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Senin (12/10) setelah sempat tertekan di awal sesi. Brent naik sekitar 0,7% ke US$105,41 per barel, sementara WTI menguat 0,6% ke US$92,42. Pasar masih terjebak dalam tarik-menarik antara prospek tambahan pasokan Rusia dan meningkatnya risiko gangguan energi akibat eskalasi di Timur Tengah.
Tekanan terhadap pasokan kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Serangan kembali terjadi pada Minggu, sementara sejumlah kapal tanker juga dilaporkan diserang di sekitar Oman dan Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa eskalasi regional dapat menghambat pemulihan ekspor minyak Timur Tengah.
Di sisi lain, pasar mendapatkan potensi tambahan pasokan dari Rusia. Presiden Donald Trump mengatakan Rusia akan segera mengirim lebih dari 300 ribu ton diesel atau sekitar 2,25 juta barel ke pasar AS dan global. Namun, dampaknya masih dipertanyakan karena kapasitas pengolahan Rusia telah mengalami gangguan. Pelepasan tambahan sekitar 500 ribu ton diesel juga dinilai hanya setara dengan sekitar satu hari konsumsi AS, sehingga belum cukup untuk mengubah keseimbangan pasar secara signifikan.
Ekspektasi terhadap gencatan senjata energi Rusia-Ukraina turut menjadi faktor yang menahan kenaikan minyak. Trump mengatakan kedua negara telah sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi, tetapi Ukraina masih menunggu rincian kesepakatan tersebut dan Rusia belum memberikan konfirmasi. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) kembali mendorong negara-negara anggotanya untuk mempercepat pelepasan cadangan diesel guna meredakan tekanan pasokan.
Newsmaker melihat, Oil saat ini berada di tengah pertarungan antara tambahan pasokan dan premi risiko geopolitik. Jika pasokan Rusia dan gencatan senjata energi benar-benar terealisasi, harga minyak berpotensi mendapat tekanan. Namun, serangan terhadap Riyadh dan kapal tanker di sekitar Hormuz menjadi risiko kenaikan yang jauh lebih besar apabila mulai mengganggu aliran minyak fisik. Goldman Sachs bahkan memperkirakan premi risiko geopolitik saat ini berada di atas US$20 per barel, menunjukkan bahwa ketegangan Timur Tengah masih menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak.
Sumber: Newsmaker.id