Saham AS Datar, Tarif dan AI Jadi Sumber Ketidakpastian
Indeks saham utama Amerika Serikat bergerak cenderung datar pada Selasa (24/2), menahan sebagian besar pelemahan dari sesi sebelumnya. Pelaku pasar terlihat mengambil sikap wait-and-see sambil menilai dua isu besar yang terus memicu volatilitas: potensi disrupsi dari kemajuan AI dan ketidakpastian kebijakan tarif terbaru pemerintahan Presiden Donald Trump.
Sektor software menjadi sorotan setelah mengalami tekanan di awal pekan. Kekhawatiran bahwa alat AI akan mempercepat otomasi pengembangan perangkat lunak dan mengurangi kebutuhan layanan tradisional membuat saham-saham terkait bergerak tidak stabil, karena investor melakukan penyesuaian valuasi terhadap model bisnis yang dianggap rentan terdampak disrupsi.
Tekanan juga merembet ke perusahaan pembayaran dan infrastruktur finansial. Kekhawatiran pasar berkembang bahwa disrupsi tidak berhenti di software, melainkan bisa menjangkau sistem pembayaran—termasuk meningkatnya minat terhadap adopsi stablecoin—sementara prospek transaksi juga berpotensi melemah jika kondisi pasar tenaga kerja tidak sekuat ekspektasi.
Dari sisi kebijakan, pasar turut mencermati langkah pemerintah AS yang disebut tengah menyiapkan perintah formal untuk menaikkan tarif Section 122 menjadi 15% dari 10% yang sudah berlaku. Ketidakjelasan mengenai waktu dan detail implementasi membuat pelaku pasar lebih berhati-hati, karena perubahan tarif dapat berdampak pada margin perusahaan, rantai pasok, dan proyeksi pertumbuhan.
Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada Nvidia dan saham-saham produsen chip yang melemah menjelang agenda laporan kinerja (earnings) Nvidia pekan ini. Sebagai salah satu barometer utama tema AI, hasil Nvidia dipandang dapat memengaruhi arah sentimen di sektor teknologi secara lebih luas, termasuk ekspektasi belanja AI dan valuasi saham terkait.
Dengan kombinasi faktor tersebut, pergerakan indeks acuan seperti S&P 500, Dow, dan Nasdaq 100 cenderung mendekati level pembukaan. Pasar menunggu katalis yang lebih jelas—baik dari sisi data ekonomi, perkembangan kebijakan tarif, maupun hasil kinerja emiten—untuk menentukan apakah risk appetite kembali menguat atau justru berbalik defensif.(yds)
Sumber: Newsmaker.id