Dolar Stabil, Yen Cetak Level Terlemah 1986
Dolar AS bergerak sedikit melemah terhadap euro pada perdagangan Kamis (23/7) menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa. Namun, greenback justru mencetak level tertinggi baru dalam 40 tahun terhadap yen Jepang, karena investor masih fokus pada eskalasi konflik Timur Tengah.
Indeks dolar AS turun tipis 0,08% ke level 101,06. Meski melemah terbatas, dolar tetap mendapat dukungan karena pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, terutama setelah harga minyak terus naik akibat gangguan jalur energi global.
Harga minyak naik untuk hari kelima setelah Houthi menyerang tanker di Laut Merah, sementara perang AS-Israel melawan Iran hampir menutup Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi energi dan membuat dolar lebih menarik dibandingkan euro maupun yen.
Euro menguat tipis 0,09% ke level US$1,1423 menjelang rapat ECB. Bank sentral Eropa diperkirakan akan menahan suku bunga, tetapi tetap membuka peluang kenaikan lanjutan jika tekanan inflasi dari energi semakin kuat.
Di sisi lain, yen Jepang kembali melemah ke level terendah sejak Desember 1986 di sekitar 163,30 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meski yield obligasi pemerintah Jepang tenor 2 tahun naik ke level tertinggi 31 tahun, karena pasar masih menilai Bank of Japan akan bergerak hati-hati dalam menaikkan suku bunga.
Dampaknya ke market, dolar AS masih berpeluang bertahan kuat selama risiko geopolitik dan harga minyak tinggi menjaga permintaan safe haven. Euro bisa bergerak terbatas menunggu sinyal ECB, sementara yen tetap rawan intervensi jika terus melemah di atas 160 per dolar. Untuk emas, penguatan dolar dan yield bisa membatasi reli, meski konflik Timur Tengah tetap memberi dukungan dari sisi safe haven.(arl)
Sumber : Newsmaker.id