• Tue, Jul 14, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

14 July 2026 11:10  |

Dolar Mundur di Tengah Bara Hormuz

Indeks Dolar AS melemah pada perdagangan Asia hari Selasa (14/7) meskipun permintaan terhadap aset safe haven masih meningkat. DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, turun ke sekitar level 100,20 setelah sebelumnya sempat menguat selama dua hari berturut-turut.

Meski melemah, tekanan turun dolar masih terbatas karena ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. US Central Command atau CENTCOM mengumumkan serangan presisi baru terhadap target militer Iran, serta menyebut lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini telah dikerahkan di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan dua supertanker yang dianggap melanggar telah dilumpuhkan di Selat Hormuz setelah mengabaikan peringatan dan melewati rute yang disebut telah dipasangi ranjau. Iran juga memperingatkan bahwa kerja sama negara-negara kawasan dengan Amerika Serikat dapat memperlambat pembukaan kembali jalur tersebut dan memicu krisis energi global.

Ketegangan di Selat Hormuz membuat harga minyak kembali terdorong naik. Pasar khawatir gangguan di jalur energi penting tersebut dapat memperketat pasokan global dan kembali menyalakan tekanan inflasi. Jika harga energi terus tinggi, The Fed berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkan suku bunga lagi.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga juga ikut berubah. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai 51%, sementara peluang suku bunga tetap hanya sekitar 23%. Kondisi ini sebenarnya bisa menjadi penopang dolar, tetapi pasar masih menunggu kepastian dari data ekonomi dan komentar pejabat The Fed.

Fokus utama investor hari ini tertuju pada data inflasi AS bulan Juni dan testimoni Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres. Jika inflasi inti tetap panas dan Warsh memberi sinyal hawkish, dolar berpeluang kembali menguat. Namun, jika data inflasi lebih jinak dari perkiraan, tekanan pada dolar bisa berlanjut meskipun risiko geopolitik masih tinggi.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

US DOLLAR

Dollar Sedikit Melemah Setelah Pulih

Dolar memangkas kenaikan hari Senin (12/05), dengan para pedagang tidak yakin bahwa lonjakannya baru-baru ini di balik mereda...

13 May 2025 15:52
US DOLLAR

Dolar Nunggu Sinyal The Fed

Indeks dolar (DXY) bergerak stabil di atas 98 pada Rabu, tapi masih bertahan dekat level terendah dalam lebih dari dua bulan....

17 December 2025 09:14
US DOLLAR

Dolar AS Tutup Tahun Terbaik Sejak 2015 dengan Bias Bullish

Dolar membukukan penurunan moderat pada hari terakhir tahun ini, yang terbaik dalam hampir satu dekade, karena opsi jangka pa...

31 December 2024 17:05
US DOLLAR

Dolar Terus Turun

Indeks dolar jatuh ke 100,3 pada hari Rabu (14/5), semakin merosot dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada hari Sen...

14 May 2025 17:16
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai