Dolar AS Terkoreksi dari Level Tertinggi 13 Bulan
Dolar AS melemah pada perdagangan Jumat (26/6) setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan. Pelemahan ini terjadi karena investor mulai mengambil jeda setelah reli kuat greenback, meskipun inflasi yang masih tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, dan ketegangan geopolitik masih menopang permintaan terhadap dolar.
Indeks dolar AS turun sekitar 0,35% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Meski terkoreksi, posisi dolar masih relatif kuat karena pasar tetap melihat Federal Reserve belum memiliki ruang besar untuk melonggarkan kebijakan. Inflasi Amerika Serikat masih bertahan jauh di atas target 2%, sementara pejabat The Fed terus memberi sinyal kehati-hatian terhadap tekanan harga.
Dukungan utama bagi dolar berasal dari ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi lebih lama. Setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih kuat, investor makro kembali meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan pengetatan moneter. CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat September berada di sekitar 64%.
Kondisi ini membuat dolar tetap menarik di pasar global. Selisih suku bunga yang lebar antara Amerika Serikat dan negara lain mendorong modal pencari imbal hasil kembali masuk ke aset berbasis dolar. Dengan demikian, greenback tidak hanya berperan sebagai aset safe haven, tetapi juga sebagai aset yang menawarkan daya tarik yield lebih tinggi dibandingkan banyak mata uang utama lainnya.
Euro berhasil memangkas sebagian tekanan dan bergerak kembali mendekati level US$1,14. Kenaikan euro terjadi seiring koreksi teknikal dolar dan arus akhir bulan. Namun, ruang penguatan euro masih terbatas karena perbedaan prospek kebijakan antara The Fed dan bank sentral utama lainnya tetap berpihak pada dolar.
Yen Jepang masih berada dalam tekanan berat. USD/JPY bergerak di sekitar 161,63, tidak jauh dari puncak 161,95 yang menjadi level terlemah yen sejak 1986. Posisi ini membuat spekulasi intervensi dari otoritas Jepang tetap hidup, terutama karena pelemahan yen dapat meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan inflasi domestik.
Data inflasi Tokyo menunjukkan core CPI naik 1,6% secara tahunan pada Juni, sesuai ekspektasi pasar. Sementara itu, ukuran inflasi yang tidak memasukkan makanan segar dan energi naik 1,1%. Meski menunjukkan tekanan harga yang masih ada, data tersebut belum cukup kuat untuk mendorong Bank of Japan mempercepat pengetatan kebijakan secara agresif.
Di sisi lain, dolar Australia dan dolar Selandia Baru masih melemah terhadap dolar AS. AUD/USD turun sekitar 0,2%, sementara NZD/USD melemah tipis. Dolar Australia tetap tertekan meskipun data inflasi dan tenaga kerja domestik cukup kuat, karena investor global masih lebih memilih dolar AS di tengah ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
Poundsterling juga mendapat perhatian setelah ekspektasi inflasi rumah tangga Inggris turun mengikuti pelemahan harga minyak. Kondisi ini memberi ruang bagi Bank of England untuk tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga tambahan. Namun, penurunan ekspektasi inflasi Inggris juga dapat membatasi daya tarik pound terhadap dolar AS.
Secara luas, pasar valuta asing masih berada dalam kondisi rapuh. Koreksi saham teknologi akibat kekhawatiran biaya chip dan infrastruktur kecerdasan buatan menekan sentimen risiko. Biasanya, tekanan pada saham pertumbuhan akan mendorong investor masuk ke obligasi pemerintah, tetapi kali ini ancaman inflasi struktural dan risiko geopolitik membuat pasar obligasi juga tidak sepenuhnya aman.
Ketegangan di Selat Hormuz turut menambah kompleksitas pasar. Serangan drone terhadap kapal tanker komersial sempat memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi. Namun, harga minyak kemudian melemah karena arus kapal melalui jalur tersebut tetap berjalan, sehingga pasar masih menimbang antara risiko geopolitik dan normalisasi pasokan.
Dengan kondisi ini, pelemahan dolar pada Jumat lebih terlihat sebagai koreksi teknikal setelah reli kuat, bukan perubahan tren besar. Selama inflasi AS tetap tinggi, The Fed mempertahankan sikap hawkish, dan selisih yield masih menguntungkan dolar, greenback masih berpotensi menjadi mata uang dominan di pasar global pada paruh kedua 2026.(arl)
Sumber: Newsmaker.id