Dolar Turun Tipis, Pasar Pantau Hormuz dan Sinyal Intervensi Yen
Dolar AS melemah tipis pada Selasa (5/5) saat pelaku pasar menimbang perkembangan perang Iran dan risiko gangguan di Selat Hormuz. Indeks dolar (DXY) turun 0,1% ke 98,05 setelah naik 0,3% sehari sebelumnya. Euro menguat 0,1% ke US$1,17005, sementara poundsterling naik 0,2% ke US$1,35576.
Sentimen tetap headline-driven setelah Menhan AS Pete Hegseth mengatakan gencatan senjata dengan Iran “belum berakhir,” di tengah laporan baku tembak di Teluk terkait perebutan kontrol Hormuz. Militer AS menyebut dua kapal dagang AS melintasi selat dengan dukungan kapal perusak berpemandu rudal, namun Iran membantah adanya pelayaran tersebut.
Terhadap yen, dolar naik 0,3% ke 157,785, sementara pasar tetap waspada terhadap potensi intervensi lanjutan Jepang setelah dugaan aksi pekan lalu yang disebut menelan sekitar US$35 miliar. Tekanan struktural pada yen dinilai masih besar, dari selisih suku bunga hingga dampak guncangan energi.
Dari sisi data, defisit perdagangan AS melebar pada Maret karena lonjakan impor terkait boom investasi AI, meski ekspor terbantu pengiriman minyak di tengah konflik. Di G10, dolar Australia menguat 0,2% ke US$0,7181 setelah RBA menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya berturut-turut, sambil menaikkan proyeksi inflasi dan menurunkan pandangan pertumbuhan serta ketenagakerjaan akibat guncangan energi global.
Ke depan, pasar cenderung tetap sensitif pada perkembangan Hormuz, sinyal intervensi yen, serta arah kebijakan bank sentral yang kian dipengaruhi risiko inflasi energi.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id