Dolar Bertahan Lemah Usai Sinyal Intervensi Yen
Indeks dolar bergerak di sekitar 98 pada Jumat (01/5) setelah turun hampir 1% pada sesi sebelumnya, dengan pelemahan terutama dipicu lonjakan yen yang memicu dugaan intervensi otoritas Jepang di pasar valuta asing.
Sejumlah laporan menyebut pejabat AS telah diberi tahu lebih dulu terkait langkah tersebut, sejalan dengan pemahaman di kelompok G7 bahwa intervensi mata uang besar umumnya dikomunikasikan antar anggota. Isyarat koordinasi ini ikut menekan dolar karena pasar menilai Jepang serius membela yen.
Di sisi data, ekonomi AS tercatat tumbuh 2% (annualized) pada kuartal I, membaik dari perlambatan akhir 2025 yang terkait penutupan pemerintahan. Angka ini memberi konteks bahwa pelemahan dolar kali ini lebih didorong faktor valas (yen) ketimbang kejutan data pertumbuhan.
Konsumsi rumah tangga naik 1,6%, dengan permintaan jasa disebut tetap resilien. Ini menjaga narasi bahwa permintaan domestik belum melemah tajam, meski pasar tetap menilai arah kebijakan akan ditentukan oleh kombinasi inflasi, pertumbuhan, dan kondisi keuangan.
Data tenaga kerja terpisah juga menunjukkan klaim pengangguran turun ke level terendah multi-dekade, memperkuat kesan pasar tenaga kerja masih ketat. Kondisi ini biasanya dapat menjadi penopang dolar melalui kanal ekspektasi suku bunga, namun saat ini tertutup oleh tekanan dari pergerakan yen.
Rangkaian rilis tersebut datang setelah The Fed mempertahankan suku bunga, sembari mengakui perbedaan pandangan internal yang kian terlihat di tengah ketidakpastian ekonomi akibat konflik Timur Tengah. Ke depan, pasar akan memantau dua hal utama: apakah otoritas Jepang kembali masuk pasar untuk menahan volatilitas yen, dan apakah data AS berikutnya menggeser kembali ekspektasi suku bunga yang dapat menentukan arah dolar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id