Fed Tahan Suku Bunga, Dolar Menguat Saat Iran Memanas
Dolar AS melanjutkan penguatannya pada Rabu (29/4) setelah Federal Reserve menahan suku bunga di 3,50%–3,75%, namun keputusan itu diwarnai dissent terbanyak sejak 1992. Indeks dolar naik 0,3% ke 98,90 pada 14:47 ET, ditopang kombinasi sinyal kebijakan yang cenderung lebih ketat dan meningkatnya kehati-hatian pasar akibat kebuntuan diplomasi Washington–Teheran.
Di internal FOMC, empat pejabat berbeda pandangan: satu mendukung pemangkasan 25 bps, sementara tiga lainnya menolak dimasukkannya “easing bias” dalam pernyataan. Lonjakan harga minyak terkait perang Iran telah menekan inflasi headline AS, membuat ruang pelonggaran kebijakan semakin sempit di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang disebut “low hire, low fire”.
Dari sisi geopolitik, laporan media menyebut Presiden Donald Trump menginstruksikan timnya menyiapkan blokade Iran yang berkepanjangan, sebagai tekanan ekonomi untuk membatasi ekspor minyak dan memaksa konsesi nuklir. Trump juga disebut tidak puas dengan proposal Iran yang menawarkan pembukaan selat tetapi menunda isu nuklir, sementara Axios melaporkan Central Command menyiapkan opsi serangan “singkat dan kuat” untuk memecah kebuntuan jika diperlukan.
Di pasar G10, euro turun 0,4% ke US$1,1669 setelah data Jerman dan Spanyol menunjukkan inflasi headline naik dipicu minyak. Pound melemah 0,4% ke US$1,3467 dengan fokus pada dinamika politik Inggris. Yen melemah dengan USD/JPY naik 0,5% menembus 160, setelah BOJ menahan suku bunga dan memberi sinyal kesiapan kenaikan ke depan. Pasar juga memantau transisi kepemimpinan The Fed setelah Komite Perbankan Senat meloloskan nominasi Kevin Warsh ke tahap voting penuh Senat.
Arah dolar berikutnya diperkirakan tetap sensitif terhadap sinyal Powell (termasuk rencana pasca 15 Mei), jalur konfirmasi Warsh, perkembangan blokade dan negosiasi AS–Iran, serta pergerakan minyak yang menjaga risiko inflasi dan membentuk ekspektasi suku bunga.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id