Emas Mencoba Pulih, Hormuz Jaga Risiko Inflasi
Harga emas kembali ke US$4.600 per ounce pada Rabu, setelah tergelincir hampir 2% pada sesi sebelumnya ke level terendah satu bulan. Pelemahan itu terjadi ketika pasar kembali mengukur risiko inflasi di tengah ketidakpastian geopolitik dan jalur pasokan energi yang belum pulih.
Kebuntuan pembicaraan damai AS–Iran menjadi salah satu faktor utama yang menahan pemulihan. Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran meminta AS mencabut blokade angkatan laut di Selat Hormuz selama negosiasi untuk mengakhiri konflik berlangsung, di saat gangguan pelayaran masih berlanjut.
Selat Hormuz tetap menjadi titik tekan karena jalur ini biasanya menyalurkan sekitar 20% arus minyak global. Penutupan yang berkepanjangan telah mengetatkan pasokan energi dari Timur Tengah dan memperpanjang premi risiko di pasar minyak.
International Energy Agency (IEA) menyebut gangguan tersebut sebagai guncangan pasokan terbesar yang pernah tercatat. Kenaikan harga energi memperkuat kekhawatiran inflasi, terutama jika biaya transportasi dan input industri ikut terdorong naik.
Namun, untuk emas, kanal inflasi ini berpotensi dua arah. Di satu sisi, emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai, tetapi di sisi lain, risiko inflasi yang bertahan justru membuat pasar makin menilai bank sentral akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama atau bahkan mengetatkan lebih lanjut, yang biasanya membebani emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Perhatian pasar kini beralih ke agenda bank sentral pekan ini. Bank of Japan sudah menahan suku bunga, sementara keputusan kebijakan dari The Fed, ECB, Bank of England, dan Bank of Canada akan menjadi acuan berikutnya bagi arah dolar, yield, dan ruang pergerakan emas, di tengah perkembangan terbaru negosiasi AS–Iran dan status Selat Hormuz.(asd)
Sumber: Newsmaker.id