Pound Tertekan Politik, Tapi Kok Dolar Juga Lagi Galau Suku Bunga?
Pasangan mata uang GBP/USD melemah pada hari Senin, mengawali perdagangan bulan Desember dengan penurunan sekitar seperempat persen. Pound Sterling (GBP) terpental turun dari area teknikal penting yang biasanya jadi zona jual, sehingga berpotensi memicu tekanan lanjutan jika arus dana global tetap mengalir ke Dolar AS (USD). Selama minat pasar terhadap USD masih kuat, peluang penguatan signifikan untuk GBP cenderung terbatas.
Dari dalam negeri Inggris, Pound ikut terbebani oleh masalah politik. Kanselir Keuangan Rachel Reeves dikritik karena dinilai salah menggambarkan kondisi anggaran Inggris. Reeves terus mendorong narasi bahwa kenaikan pajak “tak terelakkan”, padahal Kantor Pertanggungjawaban Anggaran (OBR) justru mencatat adanya surplus tak terduga, didukung oleh pertumbuhan upah dan penerimaan pajak yang lebih tinggi dari perkiraan. Di saat yang sama, pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer juga goyah, dengan dukungan politik yang melemah baik di parlemen maupun di internal Partai Buruh. Kombinasi ini membuat investor makin ragu terhadap prospek Pound.
Di sisi lain, pasar global masih fokus pada peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember. Data ekonomi AS masih terbatas setelah penutupan pemerintahan yang panjang, sehingga The Fed kekurangan rujukan kuat terkait inflasi dan ketenagakerjaan menjelang keputusan suku bunga 10 Desember. Pasar suku bunga memprokirakan peluang pemangkasan ketiga berturut-turut cukup tinggi, namun di saat yang sama juga melihat kemungkinan besar The Fed baru akan memangkas suku bunga seperempat poin pada Januari. Ketidakpastian ini membuat pergerakan Dolar AS dan GBP/USD berpotensi tetap berfluktuasi tajam dalam waktu dekat. (az)
Sumber: Newsmaker.id