Dolar Australia Menguat Ditengah perang Dagang AS-Tiongkok
Dolar Australia (AUD) menguat terhadap Dolar AS (USD) menyusul rilis data ketenagakerjaan domestik dan keputusan suku bunga Tiongkok pada hari Kamis(20/2). Namun, pasangan AUD/USD menghadapi hambatan karena penghindaran risiko meningkat akibat kekhawatiran atas tarif terbaru dari Presiden AS Donald Trump dan nada hati-hati dalam Risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari pertemuan kebijakan bulan Januari.
Pada hari Kamis, Biro Statistik Australia (ABS) melaporkan bahwa Tingkat Pengangguran Australia yang disesuaikan secara musiman naik menjadi 4,1% pada bulan Januari dari 4,0% pada bulan Desember, sejalan dengan ekspektasi pasar. Selain itu, Perubahan Ketenagakerjaan mencapai 44 ribu untuk bulan Januari, turun dari 60 ribu yang direvisi pada bulan Desember (sebelumnya 56,3 ribu), tetapi masih melebihi perkiraan konsensus sebesar 20 ribu.
Wakil Gubernur Bank Sentral Australia (RBA) Andrew Hauser menyatakan saat berbicara kepada Bloomberg News pada hari Kamis bahwa kebijakan bank sentral "masih restriktif." Hauser mencatat bahwa data pekerjaan terbaru menunjukkan sedikit alasan untuk khawatir. Hauser juga menekankan bahwa data CPI bulanan Australia masih belum lengkap, sehingga perlu menunggu angka triwulanan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Sementara ekspektasi pasar menunjukkan tiga hingga empat kali penurunan suku bunga, RBA masih belum pasti. Fokus utama bank sentral masih pada inflasi, sementara ketidakpastian ekonomi global menimbulkan risiko potensial bagi ekonomi Australia.(ads)
Sumber: FXStreet