AUD/USD Melemah, Pasar Cerna Data Perdagangan Tiongkok dan Risiko Energi
AUD/USD turun tipis pada Selasa(10/3) di sesi Asia setelah dua hari menguat, bertahan di sekitar 0,7060. Pergerakan melemah terjadi saat dolar Australia bergerak terbatas usai rilis neraca perdagangan Tiongkok.
Surplus perdagangan Tiongkok tercatat US$213,62 miliar pada Februari, melampaui ekspektasi US$179,6 miliar dan lebih tinggi dari US$114,1 miliar sebelumnya. Namun dalam denominasi yuan, surplus turun menjadi CNY 637,5 miliar dari CNY 808,8 miliar pada Januari, di bawah ekspektasi CNY 950 miliar, sehingga sinyal kekuatan perdagangan dinilai campuran.
Di Australia, keyakinan konsumen Westpac naik 1,2% pada Maret setelah turun 2,6% pada bulan sebelumnya, menjadi kenaikan pertama sejak November. Sebaliknya, keyakinan bisnis NAB jatuh ke -1 pada Februari dari 4, pembacaan negatif pertama sejak April tahun lalu, sementara kondisi bisnis bertahan di 7.
Dari sisi kebijakan, AUD mendapat penopang saat imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik ke sekitar 5,0% pada Senin—level tertinggi sejak Juli 2011—di tengah ketegangan Timur Tengah yang mengangkat harga energi dan kembali memunculkan kekhawatiran inflasi. Gubernur RBA Michele Bullock pekan lalu menegaskan bank sentral tetap “waspada” terhadap dampak konflik pada ekspektasi inflasi dan siap menaikkan suku bunga bila diperlukan.
Sementara itu, AUD/USD ikut tertekan karena dolar AS menguat tipis setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya, ketika permintaan safe-haven mereda seiring harapan konflik Iran bisa cepat mereda. Pasar kini menunggu rilis data inflasi AS, termasuk CPI dan PCE, yang berpotensi menjadi pemicu utama bagi arah dolar dan volatilitas AUD/USD dalam beberapa sesi ke depan.(alg)
Sumber: Newsmaker.id