Kripto Menguat Tipis Setelah Fed Potong Bunga, Tapi Rally Masih Rapuh
Pasar kripto bereaksi positif namun terbatas setelah Federal Reserve memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya tahun ini, membawa kisaran Fed funds ke sekitar 3,50%–3,75%. Bitcoin sempat melonjak singkat di atas $93.000 sebelum akhirnya stabil di area $92.000-an, menandakan bahwa sebagian besar pelaku pasar sebenarnya sudah lebih dulu mem‐price in keputusan tersebut. Ekspektasi pemangkasan memang sudah menguat sejak awal pekan, sehingga reaksi pasca pengumuman lebih berupa kelanjutan sentimen positif yang sudah terbentuk sebelumnya.
Pergerakan aset kripto utama lain cenderung campuran. Bitcoin dan Ethereum tercatat mencatat kenaikan moderat, sementara beberapa altcoin justru bergerak datar hingga sedikit melemah. Di balik pergerakan harga yang tidak terlalu ekstrem, volatilitas di derivatif kripto masih tinggi: implied volatility Bitcoin sempat menyentuh kisaran 67%, mencerminkan pasar yang sensitif terhadap perubahan likuiditas dan posisi leverage. Di sisi lain, arus dana institusional tetap mengalir, dengan puluhan miliar dolar tercatat masuk ke produk ETF Bitcoin dan pembelian korporasi, sehingga memberi “fondasi” jangka menengah bagi pasar meski harga jangka pendek masih mudah goyah.
Ke depan, dampak pemangkasan suku bunga The Fed terhadap kripto dinilai tidak sesederhana “bunga turun = kripto pasti terbang”. Beberapa analis menyebut langkah ini sebagai “hawkish cut” karena proyeksi 2026 tidak terlalu agresif dalam memangkas bunga, dan pejabat Fed sendiri tampak terbelah soal kecepatan pelonggaran ke depan. Kondisi ini membuka peluang skenario “sell the news”, di mana reli awal justru diikuti fase konsolidasi atau koreksi jika tidak ada katalis baru yang kuat. Bagi investor dan trader kripto, kombinasi likuiditas yang sedikit lebih longgar, ketidakpastian arah kebijakan 2026, dan risiko regulasi membuat strategi yang lebih bijak saat ini adalah tetap memanfaatkan momentum, tetapi dengan manajemen risiko ketat sambil menantikan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi berikutnya(cp)
Sumber: Newsmaker.id