Brent Turun ke US$82, Diplomasi AS-Iran Jadi Fokus
Harga minyak turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan mengatakan pembicaraan baru dengan Teheran akan dimulai pada Senin. Brent untuk kontrak Oktober sempat turun lebih dari 7% pada awal perdagangan, sebelum memangkas sebagian pelemahan dan bergerak di sekitar US$82 per barel.
Trump mengatakan sejumlah sekutu di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, memintanya untuk mengejar kesepakatan terlebih dahulu daripada melancarkan serangan. Ia menyebut pembatalan serangan dilakukan dengan syarat adanya peluang untuk segera mencapai kesepakatan, termasuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Namun, sinyal dari Iran masih belum sepenuhnya jelas. Teheran menyatakan saat ini tidak sedang bernegosiasi langsung dengan Amerika Serikat, tetapi ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Oman untuk memperlancar kembali pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Meski harga minyak turun, risiko terhadap jalur pelayaran belum hilang. UK Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker di lepas pantai Oman mendengar ledakan dalam jarak dekat pada Minggu. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap kapal di Selat Hormuz masih tinggi, meskipun sebagian kapal tetap melintasi jalur tersebut.
Dari sisi dampak market, penurunan minyak menunjukkan pasar mulai melepas sebagian premi risiko geopolitik setelah Trump menahan serangan ke Iran. Namun, Brent dan WTI masih berpotensi volatil karena belum ada kepastian kesepakatan AS-Iran dan keamanan Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya. Jika negosiasi gagal atau serangan terhadap kapal kembali terjadi, harga minyak bisa cepat rebound dan kembali memicu kekhawatiran inflasi global. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id