Minyak Makin Panas, Rencana AS Tak Ampuh
Harga minyak kembali menguat pada Rabu, memperpanjang reli dua hari yang sudah mengangkat Brent sekitar 12% kenaikan dua hari terbesar sejak 2020 ketika serangan baru di Timur Tengah membuat pasar menilai risiko gangguan pasokan makin nyata. Brent bertahan di atas $82/barel sementara WTI mendekati $75/barel, dengan pelaku pasar fokus pada satu hal: arus pengapalan energi belum pulih.
Upaya stabilisasi dari Washington belum cukup menenangkan pasar. Presiden Donald Trump menyampaikan rencana dukungan asuransi dan opsi pengawalan kapal tanker bila diperlukan untuk menjaga arus perdagangan di Selat Hormuz. Namun, respons pasar menunjukkan “kata-kata” belum dianggap cukup karena biaya risiko, kesiapan operasional, dan keamanan di lapangan masih dipertanyakan oleh pemilik kapal maupun analis.
Gangguan pasokan mulai terlihat dari produsen utama kawasan. Irak, produsen terbesar kedua OPEC, telah memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari dan memperingatkan pemangkasan bisa melebar hingga lebih dari 3 juta bpd jika ekspor tetap tersendat karena keterbatasan penyimpanan dan jalur ekspor yang tidak berfungsi. Ini mempertegas bahwa tekanan suplai bukan lagi sekadar “risiko”, tapi sudah masuk fase dampak.
Sementara itu, Selat Hormuz tetap menjadi pusat kekhawatiran. Jalur sempit ini mengalirkan sekitar 20% minyak dan LNG dunia, dan saat lalu lintas kapal “macet”, pasar otomatis mematok premi risiko lebih tinggi. Reuters melaporkan gangguan pengapalan dan produksi di beberapa titik kawasan ikut mendorong lonjakan biaya energi secara global, memperbesar peluang efek domino ke inflasi dan biaya logistik.
Indikator pasar juga mengirim sinyal “ketat di depan mata”. Struktur harga jangka pendek minyak tetap mendukung reli, sementara lembaga seperti IEA sudah menggelar pertemuan darurat dan menekankan negara anggota memiliki lebih dari 1 miliar barel stok darurat tetapi pasar menilai stok hanya membantu jika gangguan tidak berkepanjangan. Di luar geopolitik, data awal industri menunjukkan stok minyak AS naik sekitar 5,7 juta barel pekan lalu faktor yang bisa menahan kenaikan, namun untuk saat ini kalah oleh headline pasokan.
Pandangan & prediksi oil: dalam jangka dekat, bias minyak tetap bullish namun sangat volatil selama Selat Hormuz belum kembali normal dan pemangkasan output (khususnya Irak) masih berisiko melebar. Banyak analis melihat Brent berpotensi bertahan di zona tinggi dalam beberapa hari ke depan; sebagian proyeksi menempatkan rentang $80–$90 sebagai area yang realistis selama krisis belum reda, dan koreksi lebih dalam baru berpeluang muncul jika ada de-eskalasi nyata serta bukti arus kapal pulih.(asd)
Sumber: Newsmaker.id