Brent Meroket, Pasar Takut Pasokan Tersendat
Harga minyak kembali melonjak pada Senin (2/3) setelah eskalasi konflik AS–Israel vs Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan pengiriman, terutama di jalur strategis Selat Hormuz. Pasar langsung masuk mode “risk premium”, karena setiap berita soal keamanan pelayaran bisa mengubah arah harga dalam hitungan menit.
Pada perdagangan sesi Eropa : Brent berada di sekitar $79-an/barel atau naik sekitar lebih dari 7%, sementara WTI di kisaran $71-an/barel (bergerak volatil).
Lonjakan ini dipicu ketakutan bahwa arus tanker melalui Hormuz bakal makin tersendat. Reuters melaporkan gangguan pelayaran dan banyak kapal memilih menahan pergerakan/berlabuh di luar selat, yang bikin pasar menilai risiko suplai dari Teluk bisa makin ketat kalau kondisi tidak cepat normal.
Di sisi lain, OPEC+ mencoba meredam gejolak dengan menyepakati kenaikan kuota produksi sekitar 206.000 barel per hari bulan depan. Tapi pelaku pasar melihat langkah ini belum tentu langsung “menenangkan” harga kalau problem utamanya bukan produksi—melainkan logistik pengapalan dan keamanan rute.
Karena itu, fokus utama trader bukan cuma headline perang, tapi satu pertanyaan: “Tanker balik normal kapan?” Selama arus lewat Hormuz masih seret dan biaya asuransi/risiko pelayaran tinggi, minyak cenderung tetap ditopang dan volatilitas bisa lanjut.
Kesimpulannya, minyak kemungkinan masih bertahan “panas” dalam jangka pendek. OPEC+ bisa menambah suplai di atas kertas, tapi kalau kapal-kapal tetap menghindari rute, pasar akan tetap mem-price-in risiko kekurangan pasokan—dan itu yang bikin harga susah turun cepat. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id