Stok Minyak Dunia Melambat, Brent Bertahan di Atas Prediksi Goldman
Goldman Sachs menilai kenaikan stok minyak mentah global melambat dalam dua pekan terakhir. Rata-rata penambahan stok kini sekitar 700 ribu barel per hari, lebih rendah dari yang sebelumnya diperkirakan.
Angka tersebut turun jauh dibanding rata-rata 1,7 juta barel per hari dalam empat pekan sebelumnya. Ini memberi sinyal bahwa penumpukan pasokan tidak secepat yang sempat dikhawatirkan pasar.
Dua faktor utama disebut jadi penyebab: gangguan produksi di Kazakhstan dan cuaca dingin. Keduanya menahan laju pasokan dan sekaligus menjaga permintaan energi tetap kuat, sehingga stok tidak melonjak tajam.
Meski laju penambahan stok melambat, Goldman menilai sebagian besar penumpukan tetap terjadi di pusat-pusat penyimpanan yang paling terlihat oleh pasar. Artinya, perubahan stok yang terpantau jelas banyak terkonsentrasi di lokasi yang memang jadi acuan harga global.
Goldman juga menyoroti bahwa inventori komersial di negara-negara OECD menyumbang hampir seluruh estimasi penambahan stok global dalam dua minggu terakhir. Dengan kata lain, stok bertambah terutama di wilayah yang datanya transparan dan cepat terbaca pasar.
Di sisi lain, volume oil-on-water—minyak yang disimpan di kapal—memang sempat mencapai puncak di awal bulan, tetapi levelnya masih tinggi. Kondisi ini membuat pasar tetap waspada, karena pasokan yang “mengapung” bisa sewaktu-waktu masuk ke darat dan menekan harga.
Hal yang paling mencolok: pemasok yang terkena sanksi seperti Rusia, Iran, dan Venezuela disebut menyumbang sekitar dua pertiga dari stok minyak yang tersimpan di laut, padahal kontribusi mereka hanya sekitar 14% dari produksi global. Ini menandakan adanya hambatan distribusi dan tekanan geopolitik yang ikut mengubah pola penyimpanan.
Di tengah semua itu, Brent diperdagangkan di kisaran $64–$65 per barel, sekitar $4–$5 lebih tinggi dari perkiraan Goldman untuk Januari. Goldman menilai sekitar setengah kejutan kenaikan harga berasal dari gangguan Kazakhstan, sementara sisanya dipicu naiknya premi risiko geopolitik, terutama terkait Iran.(asd)
Sumber : Newsmaker.id