Minyak Flat, Drama Greenland Panaskan Sentimen
Harga minyak bergerak nyaris datar pada perdagangan Senin (19/1), setelah pasar menilai risiko gangguan pasokan dari Iran mulai mereda. Meredanya kerusuhan sipil di Iran menurunkan kekhawatiran akan langkah militer AS yang dapat mengganggu arus ekspor dari produsen penting Timur Tengah itu. Di saat yang sama, fokus pelaku pasar bergeser ke memanasnya ketegangan politik-dagang seputar Greenland, yang menambah lapisan ketidakpastian baru di pasar global.
Pada pukul 19:46 GMT, Brent naik tipis 1 sen ke $64,14/barel, sementara WTI Februari bertahan di $59,44/barel. Pergerakan cenderung terbatas karena likuiditas menipis—pasar AS libur memperingati Martin Luther King Jr. Day, membuat aktivitas transaksi lebih sepi dari biasanya.
Dari sisi geopolitik, otoritas Iran menyebut penindakan keras telah meredam gelombang protes yang menurut pejabat menelan korban hingga 5.000 orang, sementara Presiden AS Donald Trump terlihat melunakkan nada ancaman intervensi yang sempat menguat sebelumnya. Namun, pasar belum sepenuhnya tenang: Trump justru meningkatkan tekanan terhadap Eropa lewat isu Greenland, termasuk ancaman tarif terhadap negara-negara yang dianggap menghalangi rencananya—mendorong Uni Eropa mulai menimbang langkah balasan dan menjadwalkan pertemuan darurat di Brussels pada Kamis. Meski Greenland bukan produsen minyak, pelaku pasar melihat konflik ini sebagai pemicu “risk-off” yang sudah menekan saham global dan melemahkan dolar terhadap aset safe-haven seperti yen dan franc Swiss. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id