Emas Menguat, Tapi Ada Satu Faktor yang Menahan Kenaikannya
Harga emas (XAU/USD) menguat pada hari Jumat dan memangkas sebagian pelemahan sesi sebelumnya, seiring pulihnya pasar logam mulia yang ditopang permintaan safe haven. Meski begitu, emas masih berada di jalur penurunan mingguan pertama dalam lima pekan karena eskalasi konflik Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi, dan membuat pasar mengurangi ekspektasi ekspektasi suku bunga The Fed.
Dari sisi makro, penguatan dolar AS menjadi tantangan utama bagi emas yang menjual dalam denominasi dolar. Dolar yang lebih kuat biasanya menekan minat beli karena membuat emas lebih mahal bagi pembeli non-AS, sementara imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa kupon seperti emas.
Tekanan tersebut diperkuat oleh narasi kebijakan The Fed. Sejumlah pejabat The Fed disebut masih membuka peluang pengetatan lanjutan jika inflasi bertahan di atas target, yang mendorong pasar lebih berhati-hati dalam mematok waktu penurunan suku bunga. Kombinasi dolar kuat dan ekspektasi suku bunga lebih tinggi biasanya mengurangi kenaikan ruang emas, meskipun risiko geopolitik tetap menahan tekanan penjualan.
Di sisi geopolitik, perang memasuki hari ketujuh ketika Iran meluncurkan serangan rudal dan drone di kawasan Teluk, termasuk serangan yang dilaporkan mengenai kilang minyak di Bahrain. Israel melanjutkan serangan udara ke Teheran, sementara AS menangguhkan operasi di kedutaannya di Kuwait, menjaga pasar dalam mode risk-off meskipun pergerakan emas tidak sepenuhnya mengarah ke satu arah.
Pernyataan dari para pejabat juga menambah pejabat. Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat Iran menghubunginya untuk mencoba mencapai kesepakatan mengakhiri perang, namun ia menilai hal itu “terlambat” dan menyatakan AS mendorong Iran. Di sisi lain, Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran tidak meminta gencatan senjata dan tidak berniat bernegosiasi, sementara Garda Revolusi memperingatkan balasan serangan akan meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Pelaku pasar kini menanti data tenaga kerja AS, terutama Nonfarm Payrolls (NFP), yang diperkirakan sekitar 59 ribu untuk Februari setelah pembacaan Januari 130 ribu, serta rilis Retail Sales yang diproyeksikan turun 0,3% bulanan. Selain itu, perhatian juga tertuju pada kebijakan tarif AS, termasuk rencana tarif global sementara 15% dan potensi penyesuaian ulang dalam beberapa bulan ke depan, yang berpotensi mempengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan The Fed. (asd)
Sumber: Newsmaker.id