Minyak Stabil Usai Jatuh Tajam, Risiko Iran Mereda
Harga minyak bergerak relatif tenang di sesi Asia Jumat, sehari setelah mencatat penurunan terbesar sejak Juni. Pasar menilai peluang serangan AS ke Iran dalam waktu dekat mengecil, sehingga “premi risiko geopolitik” yang sempat mengerek harga pekan ini mulai menguap.
Brent diperdagangkan di sekitar US$63,6 per barel setelah anjlok 4,2% pada Kamis, sementara WTI bergerak di kisaran US$59,1 per barel. Koreksi besar kemarin terjadi saat pelaku pasar mengurangi posisi risiko setelah ada sinyal bahwa eskalasi militer tidak segera terjadi.
Salah satu pemicunya adalah laporan bahwa PM Israel Benjamin Netanyahu meminta Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan ke Iran. Isyarat “tahan dulu” ini menurunkan peluang gangguan mendadak pada produksi Iran maupun jalur pengiriman strategis di kawasan Teluk.
Meski tensi mereda, pasar belum sepenuhnya santai. AS disebut tetap meningkatkan kehadiran militer di Timur Tengah, termasuk pergeseran aset seperti kapal induk dan penambahan kapabilitas lain dalam beberapa hari hingga pekan ke depan—membuat harga minyak tetap sensitif terhadap headline geopolitik.
Secara mingguan, minyak diperkirakan berakhir nyaris datar. Harga sempat melesat sejak 8 Januari karena kekhawatiran Iran (produsen besar OPEC) bisa terdampak, ditambah gejolak Venezuela dan gangguan ekspor Kazakhstan yang sempat mengencangkan pasokan.
Di Karibia, tekanan AS terhadap penggunaan kapal-kapal yang terkait sanksi Venezuela juga meningkat, termasuk aksi penyitaan tanker. Namun di sisi lain, arus kargo minyak Venezuela ke fasilitas penyimpanan seperti Curacao tetap menjadi sorotan, membuat dinamika suplai kawasan masih ramai.
5 inti poin :
- Minyak stabil setelah drop terbesar sejak Juni
- Brent US$63,6, WTI US$59,1
- Sinyal AS tunda serangan menurunkan premi risiko Iran
- Kehadiran militer AS bertambah, pasar tetap waspada
- Faktor suplai lain: Venezuela & Kazakhstan masih memengaruhi sentimen.(asd)
Sumber : Newsmaker.id