Minyak Naik Drastis, Didorong oleh Blokade Venezuela dan Serangan AS di Nigeria
Harga minyak mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak akhir Oktober, didorong oleh ketegangan geopolitik dan blokade sebagian AS terhadap pengiriman minyak mentah dari Venezuela. Brent, patokan global, diperdagangkan di atas $62 per barel, naik lebih dari 3% sepanjang minggu ini, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di atas $58 per barel. Blokade ini diperparah oleh keputusan AS untuk memfokuskan upaya pada pemblokiran pengiriman minyak dari Venezuela, dengan kapal tanker yang dikenai sanksi berbalik arah menjauh dari negara Amerika Selatan tersebut.
Kebijakan Trump ini bertujuan untuk memperketat sanksi terhadap pemerintah Venezuela, yang sudah tertekan akibat blokade ekonomi. Sumber yang familiar dengan situasi ini mengatakan bahwa pasukan AS hampir sepenuhnya fokus pada blokade minyak Venezuela dalam dua bulan mendatang, menggantikan opsi militer. Meskipun harga minyak tertekan oleh prospek surplus global pada tahun 2026, ketegangan geopolitik ini memberikan dukungan harga yang kuat.
Selain itu, ketegangan di Nigeria menambah faktor pendorong harga minyak. Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan militer terhadap kelompok teroris ISIS di Nigeria bagian barat laut, dengan ancaman akan ada lebih banyak serangan jika ISIS tidak menghentikan serangannya. Nigeria, sebagai anggota OPEC, menghasilkan sekitar 1,5 juta barel minyak per hari pada bulan November, dan ketegangan ini berpotensi memperburuk pasokan minyak global.
Di tengah ketidakpastian ini, harga minyak juga mendapat dukungan dari data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan. Namun, dengan liburan Natal yang membuat pasar lebih sepi, diperkirakan ada sedikit penurunan harga minyak dalam beberapa hari mendatang, kecuali ketegangan geopolitik terus berlanjut.
Sementara itu, pelemahan dolar AS turut mendukung harga minyak, membuat bahan mentah menjadi lebih murah bagi pembeli global. Indeks Dolar Spot Bloomberg turun 0,7% minggu ini, mendukung lonjakan harga minyak.
Sementara itu, di Eropa, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, mengungkapkan rencananya untuk bertemu dengan Presiden Trump dalam waktu dekat untuk membahas upaya mengakhiri perang Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan di Eropa juga semakin mempengaruhi dinamika pasar energi.
Dalam perkembangan pasar lainnya, meskipun harga minyak menguat, Brent diperkirakan tetap berada di jalur penurunan tahunan terbesar sejak 2020. Kelebihan pasokan global masih menjadi kekhawatiran utama, dengan para pedagang memperkirakan peningkatan pasokan dari negara-negara produsen di luar OPEC+ pada tahun depan.(asd)
Source: Newsmaker.id