Harga Minyak Tahan Kenaikan, Ketegangan Geopolitik Jadi Pemicu
Harga minyak terus bertahan pada kenaikan lima hari berturut-turut pada Selasa (23/12), dengan para trader mempertimbangkan ketegangan geopolitik yang meningkat serta data persediaan yang lebih tinggi. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sekitar $58 per barel, setelah mencatatkan kenaikan hampir 6% dalam lima sesi sebelumnya, sementara Brent ditutup di atas $62 per barel.
Salah satu faktor yang mendorong harga minyak adalah tindakan AS terhadap Venezuela, yang kini tengah mengejar tanker minyak ketiga di lepas pantai negara tersebut. Pemerintah AS meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Nicolás Maduro, yang memperburuk ketegangan di kawasan tersebut dan menambah ketidakpastian di pasar minyak.
Di sisi lain, minyak Rusia juga menumpuk di laut, dengan volume yang melonjak 48% sejak akhir Agustus. Hal ini menambah kekhawatiran di kalangan pengirim dan pembeli minyak Rusia, yang khawatir bahwa kargo mereka juga bisa menjadi sasaran setelah tindakan AS terhadap Venezuela. Ketegangan ini semakin memperburuk volatilitas harga minyak global.
Di AS, laporan industri menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah meningkat 2,4 juta barel minggu lalu, dengan persediaan bensin dan distilat juga mengalami kenaikan. Data resmi dari pemerintah dijadwalkan akan dirilis pada 29 Desember, bukan hari Rabu seperti yang direncanakan sebelumnya, setelah Presiden Donald Trump mendeklarasikan hari libur federal.
Harga WTI untuk pengiriman Februari naik 0,1% menjadi $58,45 per barel pada pukul 7:26 pagi di Singapura. Brent untuk penyelesaian Februari ditutup 0,5% lebih tinggi di $62,38 per barel.
Harga minyak diperkirakan akan terus bergantung pada perkembangan ketegangan geopolitik dan data persediaan yang terus berkembang. Para investor dan trader akan terus memantau dinamika pasar ini untuk memprediksi arah harga minyak selanjutnya di tengah ketidakpastian global yang meningkat.(asd)
Sumber: Bloomberg