Minyak Ngamuk Lagi, Ada Apa?
Harga minyak dunia bangkit dari level terendah sejak Oktober, didorong oleh sentimen positif di pasar keuangan global. Brent menguat mendekati $62 per barel setelah turun 1,5% di sesi sebelumnya, sementara WTI bergerak di sekitar $58 per barel. Kenaikan ini sejalan dengan penguatan bursa saham Asia, menyusul rekor baru di pasar saham AS dan global setelah The Fed melakukan pemangkasan suku bunga untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Namun, secara fundamental, prospek minyak masih cenderung bearish. International Energy Agency (IEA) kembali menegaskan proyeksi adanya surplus pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya, meski sedikit lebih rendah dari prediksi bulan lalu. Persediaan minyak global kini telah naik ke level tertinggi dalam empat tahun. Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital, kenaikan harga saat ini lebih karena “ikut arus” optimisme pasar, sementara masalah kelebihan pasokan sebenarnya belum terselesaikan.
Dari sisi geopolitik, ketegangan juga ikut memberi dukungan tambahan bagi harga minyak. Presiden AS Donald Trump mengumumkan sanksi baru terhadap keponakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan enam kapal tanker minyak, setelah AS menyita sebuah supertanker di lepas pantai Venezuela. Langkah ini disebut sebagai fase baru tekanan ekonomi untuk memutus aliran pendapatan minyak ke rezim Maduro. Meski begitu, analis menilai, selama sanksi ini belum benar-benar menghambat arus ekspor atau jalur pelayaran secara signifikan, dampaknya masih lebih berupa “headline risk” ketimbang guncangan struktural pada pasokan. Sementara itu, produksi minyak di Brasil mulai pulih dari gangguan yang sempat memangkas lebih dari 300.000 barel per hari bulan lalu, menambah suplai baru dari kawasan Amerika.
Bagi pasar keuangan, kombinasi pemangkasan suku bunga The Fed, kenaikan harga minyak, dan ketegangan geopolitik punya beberapa dampak. Dolar AS cenderung sedikit tertekan oleh kebijakan suku bunga yang lebih rendah, tapi masih didukung statusnya sebagai mata uang utama dunia. Emas dan perak biasanya kurang diminati saat sentimen pasar sedang optimis (risk-on), sehingga bisa mengalami tekanan jual jangka pendek, meski pemangkasan suku bunga tetap menjadi faktor pendukung di sisi lain. Untuk minyak, sentimen positif dan faktor geopolitik membantu harga naik, tetapi kelebihan pasokan global membatasi potensi reli besar. Secara keseluruhan, situasi ini menciptakan pola: oil naik pelan dengan risiko koreksi, dolar cenderung campuran, sementara emas dan silver lebih sensitif terhadap kombinasi antara arah dolar, suku bunga, dan perubahan selera risiko pasar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id