Dolar Naik Lagi Dipicu Lonjakan Minyak, Dolar Kanada Jadi yang Paling Bertahan di G-10
Dolar AS kembali menguat dan mencatat kenaikan hari ketiga dalam pekan ini, seiring harga minyak AS (WTI) sempat menembus $81 per barel—tertinggi sejak Juli 2024—sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Seluruh mata uang G-10 melemah terhadap dolar, namun dolar Kanada (loonie) termasuk yang penurunannya paling kecil, sementara sentimen negatif terhadap euro tetap tinggi.
WTI sempat melesat hingga 8,7% pada jam perdagangan AS, ketika investor semakin mem-price-in skenario perang Timur Tengah yang berkepanjangan dan berpotensi mengacaukan arus energi global. Namun reli minyak mereda di akhir sesi New York setelah muncul laporan bahwa Departemen Keuangan AS akan mengumumkan langkah untuk meredam harga energi tinggi, serta Menteri Keuangan Scott Bessent mempertimbangkan untuk meminta China mengurangi pembelian minyak Iran.
Di sisi geopolitik, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan serangan balasan akan meningkat dalam beberapa hari ke depan. Presiden Donald Trump juga mengatakan AS “berjalan sangat baik di perang,” menambah nuansa eskalasi yang menjaga premi risiko tetap tinggi.
Indeks Bloomberg Dollar Spot naik sekitar 0,34% (pukul 15:30 waktu New York) setelah sempat menguat hingga 0,63%. Yield Treasury AS 10 tahun melonjak 5 bps ke 4,15%, mencatat kenaikan selama empat hari beruntun—kombinasi dolar kuat dan yield naik yang biasanya menekan mata uang mayor.
Dolar Kanada turun sekitar 0,2% terhadap dolar AS pada Kamis—relatif lebih kuat dibanding mayoritas mata uang G-10—dan juga dinilai outperform secara mingguan. Sebaliknya, EUR/USD turun 0,21% ke 1,1609 setelah sempat melemah hingga 0,64%, dan masih berada di bawah 200-day moving average sekitar 1,1672. Wakil Presiden ECB Luis de Guindos memperingatkan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan berisiko mendorong ekspektasi inflasi naik.
Di pasar opsi, one-week EUR/USD risk reversals makin dalam ke wilayah negatif—sekitar 1,68% memihak put pada Kamis—menjadi posisi paling bearish terhadap euro sejak Juli 2022. EUR/GBP turun 0,1% ke 0,86887 (turun hari ketiga dalam pekan ini), sementara EUR/CHF menuju penurunan harian ketiga, melemah tipis ke sekitar 0,9056.
Menariknya, meski banyak trader bersiap untuk pelemahan mayoritas pesaing dolar, aliran transaksi (DTCC) menunjukkan mereka tetap condong pada kekuatan franc Swiss, mempertahankannya sebagai safe haven favorit.
Di Asia, USD/JPY kembali menguat ke 157,48 dengan puncak sesi di 157,85, mendekati level tertinggi bulanan Maret di 157,97. Sementara AUD/USD turun sekitar 0,9% ke 0,7010 setelah sempat melemah hingga 1,4%.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id