Emas Cetak Penurunan Mingguan, Minyak dan The Fed Jadi Tekanan
Harga emas turun ke sekitar US$3.970 per troy ounce pada perdagangan Jumat (17/7). Sepekan, emas mencatat pelemahan lebih dari 3% karena ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali mendorong harga minyak naik.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Teheran melancarkan serangan baru terhadap fasilitas Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan itu terjadi setelah AS melakukan serangan malam keenam berturut-turut terhadap sasaran militer Iran, yang ikut mengganggu lalu melintasi kapal melalui Selat Hormuz.
Sinyal hawkish dari pejabat The Fed juga menambah tekanan terhadap emas. Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, mengumumkan kenaikan suku bunga tambahan, sementara Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyatakan siap mendukung kebijakan yang lebih ketat jika inflasi tidak meningkat dalam waktu dekat.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 50% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan September. Dari sisi data, harga konsumen dan harga produsen AS sama-sama turun pada bulan Juni, terutama karena biaya energi yang lebih rendah. Namun, harga impor justru naik secara tak terduga.
Dari sisi dampak pasar, risiko emas masih tertekan selama harga minyak tinggi dan ekspektasi suku bunga The Fed tetap kuat. Jika dolar AS dan imbal hasil Treasury kembali menguat, XAU/USD berpotensi sulit kembali ke atas US$4.000. Namun, jika ketegangan geopolitik semakin memburuk, permintaan safe haven dapat menahan pelemahan emas agar tidak terlalu dalam. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id