Serangan ke Teluk Angkat Dolar dan Uji Outlook Suku Bunga, Emas Turun
Harga emas melemah setelah serangkaian serangan militer di kawasan Teluk Persia mengurangi harapan tercapainya kesepakatan damai AS–Iran dalam waktu dekat, sekaligus menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan dan membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama. Bullion sempat turun hingga 1,9% seiring penguatan dolar, sementara bentrokan AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz menegaskan tensi operasional masih tinggi meski kedua pihak mengklaim ada kemajuan menuju kesepakatan sementara.
Volatilitas energi kembali menjadi kanal utama yang membentuk arah emas. Harga minyak bergerak liar mengikuti perkembangan Timur Tengah, dengan Brent kembali menembus US$100 per barel setelah sebelumnya anjlok lebih dari 7% pada Senin. Situasi ini terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Teheran untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali selat masih berjalan, sementara Menlu Marco Rubio menilai pembicaraan kemungkinan masih membutuhkan beberapa hari. TD Securities menilai optimisme deal sempat memberi dukungan, tetapi kondisi tetap rapuh karena risiko inflasi masih membayangi logam mulia dan pelaku tren cenderung berada di sisi jual.
Tekanan struktural juga belum hilang. Emas telah turun lebih dari 14% sejak konflik pecah akhir Februari ketika lonjakan energi mendorong pasar menaikkan taruhan kenaikan suku bunga; biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya membebani emas karena tidak memberi imbal hasil. World Gold Council menilai pemulihan yang berkelanjutan membutuhkan emas lepas dari korelasi dengan aset berisiko, dan pemulihan yang lebih solid cenderung baru terlihat mendekati akhir tahun karena penyeimbangan kembali pasar energi membutuhkan waktu. Pada 15:48 di New York, emas spot turun 1,4% ke US$4.506,48 per ounce, sementara perak turun 1,5% ke US$76,92 dan logam mulia lain juga melemah. (asd)
Sumber: Newsmaker.id