Tensi Geopolitik Reda, Emas Menguat Sejenak!
Harga emas menguat setelah muncul tanda-tanda Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan yang berpotensi meredakan risiko gangguan di Selat Hormuz. Perkembangan ini dipandang bisa menurunkan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya dipicu lonjakan harga energi.
Emas spot naik 1,5% ke US$4.575,30 per ons pada pukul 08.11 di Singapura, menghapus penurunan moderat pekan lalu. Kenaikan terjadi bersamaan dengan pelemahan Bloomberg Dollar Spot Index sebesar 0,2%, yang umumnya mendukung harga logam mulia.
Menurut pejabat AS yang berbicara kepada wartawan pada Minggu, negosiasi masih berlanjut pada tahap perumusan bahasa kesepakatan dan dapat memakan waktu beberapa hari untuk memperoleh persetujuan final dari kedua pihak. Presiden Donald Trump mengatakan ia tidak akan “terburu-buru” dalam mencapai kesepakatan, sementara Menlu AS Marco Rubio menyebut ada kemungkinan “kabar baik” terkait Hormuz dalam beberapa jam ke depan.
Meski begitu, respons pasar dinilai belum agresif. Analis Global X ETFs di Sydney, Justin Lin, mengatakan reaksi emas terhadap headline masih “relatif muted” karena pasar sudah beberapa kali melihat pengumuman dari Trump tidak berujung pada hasil konkret, sehingga investor masih menunggu bukti kerja sama yang lebih nyata sebelum menurunkan ekspektasi inflasi.
Dari sisi fundamental, emas masih tertekan oleh meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter. Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, emas dilaporkan masih turun sekitar 13%, sementara pasar uang semakin mematok peluang The Fed mulai menaikkan suku bunga pada Desember, seiring perang Iran mendorong harga energi dan memperkuat tekanan inflasi. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan The Fed di bawah ketua baru, Kevin Warsh, terutama terkait penilaiannya terhadap kondisi ekonomi dan inflasi. Di pasar logam lain, perak naik 4% ke US$78,53, sementara platinum dan palladium turut menguat—mengikuti pergeseran sentimen risiko dan pergerakan dolar.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id