Dolar Menguat, Emas Sulit Pulih di Pasar Global
Harga emas (XAU/USD) bergerak mendekati level terendah harian pada sesi Eropa Jumat (22/5), namun berhasil bertahan di atas psikologis $4.500 per ons. Penguatan dolar AS ke level tertinggi enam minggu, didorong oleh pandangan hawkish Federal Reserve, menekan permintaan terhadap logam mulia.
Trader telah sepenuhnya mengeksklusifkan kemungkinan pemangkasan suku bunga Fed sepanjang 2026, dan kini memperkirakan minimal satu kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun menyusul kenaikan harga energi dan kekhawatiran inflasi konsumen. Minutes FOMC April menunjukkan pejabat Fed condong untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya jika inflasi tetap di atas target 2%. Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan 25 bps pada Desember mencapai lebih dari 60%, mendukung imbal hasil Treasury dan dolar, sehingga membebani emas.
Di sisi geopolitik, sumber senior Iran menyebut belum ada kesepakatan tercapai dengan AS, meski posisi kedua pihak semakin mendekati titik tengah. Uranium Iran dan kontrol terhadap Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial. Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyatakan niat Iran untuk mengenakan tol di Selat Hormuz menjadi hambatan bagi kesepakatan, sementara Presiden Trump menegaskan AS menolak tol dan berkomitmen mengambil kembali stok uranium tingkat tinggi Iran.
Ketegangan ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi, mendukung bull USD, dan menandakan bahwa jalur paling mungkin bagi emas saat ini tetap ke arah penurunan.
Variabel yang perlu dipantau: negosiasi AS-Iran, harga energi, kebijakan Fed, dan pergerakan imbal hasil Treasury. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id