Emas Naik Tipis, Dolar dan Yield Tinggi Picu Koreksi Mingguan
Harga emas menguat pada Jumat (6/3) seiring permintaan safe haven bertahan ketika perang di Timur Tengah memasuki hari ketujuh. Namun, penguatan hari ini belum cukup menahan emas dari penurunan mingguan pertama dalam lima pekan, karena dolar yang lebih kuat dan yield Treasury yang lebih tinggi tetap menekan.
Spot gold terakhir naik sekitar 0,3% ke US$5.096,36/ons, sementara emas berjangka AS naik sekitar 1% ke US$5.126,70. Meski rebound, emas tercatat turun sekitar 3% sepanjang pekan ini.
Tekanan datang dari repricing suku bunga. Lonjakan harga energi di tengah konflik memperbesar kekhawatiran inflasi dan membuat pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sehingga dolar menguat dan menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Dolar juga diperkirakan mencatat kenaikan mingguan sekitar 1,4%, yang mengurangi daya tarik emas bagi pembeli non-USD.
Di pasar obligasi, selloff Treasury menjaga yield tinggi dan menambah tekanan opportunity cost untuk logam mulia. Yield AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,17% pada 6 Maret.
Konflik AS–Israel dengan Iran yang meluas ke kawasan Teluk tetap menjadi sumber premi risiko, termasuk dampak ke harga energi dan jalur inflasi global. Pasar kini menunggu rilis NFP AS untuk menguji apakah data tenaga kerja kembali memperkuat narasi “higher for longer” atau memberi ruang bagi ekspektasi pelonggaran. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id