Emas Berbalik Arah, Risiko Masih Tinggi
Logam mulia mulai “ambil napas” setelah diguncang aksi jual brutal di sesi Asia. Harga sempat jatuh dalam lalu muncul pantulan tipis, karena pasar sedang menakar: ini koreksi wajar setelah reli gila-gilaan, atau sinyal reli besar benar-benar patah.
Emas spot masih tertekan sekitar 4% setelah sebelumnya sempat ambruk hingga 10%—melanjutkan penurunan paling tajam dalam lebih dari satu dekade pada Jumat. Perak juga belum pulih, turun lebih dari 7% setelah sesi sebelumnya sempat rontok 16% dan mencetak penurunan intraday terbesar. Sentimennya jelas: dari euforia jadi risk-off dalam satu hentakan.
Akar masalahnya adalah reli Januari yang “lari terlalu jauh”. Investor menumpuk emas dan perak karena campuran isu geopolitik, kekhawatiran pelemahan mata uang, dan isu independensi bank sentral. Dorongan spekulan Tiongkok ikut menambah “busa” di reli—dan saat arah berbalik, pasar yang terlalu padat langsung kekurangan likuiditas.
Pemicu utama selloff datang dari kabar Donald Trump akan mengajukan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed. Pasar membaca Warsh sebagai figur yang lebih tegas terhadap inflasi, sehingga ekspektasi kebijakan lebih ketat menguat, dolar naik, dan logam mulia yang dihargai dolar jadi ikut tertekan. Di saat yang sama, arus spekulatif yang tadinya mendorong harga dari Asia ikut putar balik dan memperdalam jatuhnya harga.
Tekanan makin “nendang” karena faktor teknis: banyak posisi memakai leverage, jadi ketika harga turun muncul efek domino—margin call, forced selling, dan pembalikan hedging dari pasar opsi. Dari sini, arah selanjutnya sangat bergantung pada apakah pembeli fisik (terutama jelang Imlek di Tiongkok) kembali agresif buy the dip, dan apakah proses deleveraging sudah benar-benar selesai.(alg)
Sumber: Newsmaker.id