Emas–Perak Pangkas Kerugian, Tapi Pasar Masih “Goyah”
Logam mulia mulai mencoba pulih setelah kembali diguncang aksi jual di sesi Asia hari Senin (2/2), saat pasar mencerna “rem mendadak” dari reli yang sebelumnya lari terlalu kencang. Setelah sempat jatuh ekstrem, pergerakan emas dan perak kini lebih seperti fase cari pijakan—bukan langsung balik naik mulus.
Harga spot terupdate: emas berada di sekitar $4.720,19/ons (turun lebih dari 3%), sementara perak di sekitar $81,41/ons (turun lebih dari 3,8%). Keduanya sempat jatuh lebih dalam di awal perdagangan, sebelum muncul aksi beli di harga bawah dan penutupan posisi pendek.
Akar masalahnya tetap sama: reli emas–perak yang memecahkan rekor sepanjang Januari akhirnya “kecapekan”. Banyak pelaku pasar masuk karena campuran isu geopolitik, kekhawatiran pelemahan mata uang, sampai isu independensi Federal Reserve—lalu saat sentimen berubah, posisi yang terlalu padat langsung dibongkar cepat.
Pemicu balik arah paling keras muncul setelah Donald Trump mengangkat Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed. Pasar menilai Warsh lebih tegas terhadap inflasi, sehingga ekspektasi suku bunga “tinggi lebih lama” menguat, dolar ikut terdorong, dan logam mulia berdenominasi dolar jadi ikut tertekan.
Tekanan makin besar karena faktor mekanis: volatilitas yang meledak bikin likuiditas menipis, lalu kenaikan margin dan posisi leverage mempercepat gelombang jual. Ketika pasar berbalik, dealer dan trader yang tadinya “ngejar harga” dipaksa menutup eksposur—hasilnya pergerakan jadi lebih ekstrem dari biasanya.
Dari sini, salah satu kunci ada di perilaku beli dari Tiongkok. Kalau minat “buy on dip” tetap hidup—terutama menjelang musim belanja—harga bisa dapat bantalan. Tapi kalau arus spekulatif yang sebelumnya ramai di pasar domestik seperti Shanghai justru makin keluar, tekanan bisa berlanjut meski sesekali ada pantulan. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id