BofA Prediksi The Fed Naikkan Suku Bunga
Bank of America mengubah proyeksi kebijakan moneter Amerika Serikat dengan memperkirakan Federal Reserve atau The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun ini. Total kenaikan diproyeksikan mencapai 75 basis poin sebelum bank sentral AS memasuki periode jeda yang lebih panjang. Perubahan pandangan ini membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin jauh dari ekspektasi pasar.
Perubahan proyeksi BofA didorong oleh kondisi inflasi Amerika Serikat yang dinilai semakin memburuk. Bank tersebut memperkirakan inflasi inti Personal Consumption Expenditures atau core PCE berpotensi mencapai 3,5% pada Mei. Angka tersebut berada sekitar 70 basis poin lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menunjukkan bahwa tekanan harga masih sulit kembali ke target inflasi The Fed di level 2%.
BofA juga menilai bahwa pola reaksi The Fed mulai berubah. Dalam proyeksi ekonomi terbaru pada Juni, sejumlah pejabat The Fed tetap membuka peluang kenaikan suku bunga meskipun tidak memperkirakan tingkat pengangguran akan turun. Hal ini menunjukkan bahwa pengetatan pasar tenaga kerja tidak lagi menjadi syarat utama bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga, selama tekanan inflasi masih dianggap terlalu tinggi.
Sikap Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers pekan lalu turut memperkuat pandangan tersebut. Warsh berulang kali menekankan pentingnya mengembalikan stabilitas harga dan memberi sinyal bahwa kebijakan moneter saat ini belum terlalu ketat. Pernyataan ini membuat pasar semakin yakin bahwa The Fed belum terburu-buru membuka ruang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Meski begitu, BofA menilai masih ada beberapa faktor yang dapat menggagalkan skenario kenaikan suku bunga tersebut. Perlambatan tajam pada data tenaga kerja, inflasi inti PCE yang lebih rendah dari perkiraan, atau aksi jual besar di pasar saham dapat membuat The Fed menahan diri. Namun untuk saat ini, arah kebijakan The Fed dinilai semakin hawkish, sehingga dolar AS berpotensi tetap kuat, sementara aset berisiko dan logam mulia dapat menghadapi tekanan tambahan.(arl)
Sumber : Newsmaker.id