Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed Masih Bersyarat
Prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve pada 2026 semakin kompleks, dengan pasar dan ekonom terpecah antara skenario “tahan lebih lama” dan kemungkinan pemangkasan terbatas. Mayoritas pejabat bank sentral saat ini masih cenderung berhati-hati, seiring tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda akibat faktor energi dan geopolitik global.
Dari sisi probabilitas pasar, data terbaru menunjukkan kecenderungan masih dominan ke arah penahanan suku bunga. Sekitar 65% kemungkinan suku bunga tetap (hold) hingga akhir tahun, sementara peluang pemangkasan berada di kisaran 34–58% tergantung survei investor dan manajer dana global . Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga dinilai sangat kecil, hanya sekitar 2–5%, mencerminkan bahwa pasar tidak melihat skenario pengetatan agresif dalam waktu dekat .
Pernyataan pejabat The Fed memperkuat sikap wait and see. Presiden The Fed Cleveland menyatakan suku bunga kemungkinan “akan ditahan untuk beberapa waktu” sambil menunggu kejelasan inflasi . Senada, pejabat lainnya menilai lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah dapat menjaga inflasi tetap tinggi, bahkan membuka kemungkinan kebijakan tetap ketat lebih lama . Di sisi lain, beberapa pejabat seperti Chris Waller mulai membuka peluang pemangkasan jika tekanan harga mereda, meski tetap dengan pendekatan hati-hati .
Dari perspektif ekonom, konsensus cenderung mengarah pada 1–2 kali pemangkasan suku bunga di akhir tahun, bukan dalam waktu dekat. Survei ekonom menunjukkan sebagian besar memperkirakan pelonggaran terjadi jika inflasi benar-benar turun dan pasar tenaga kerja melemah . Namun selama ketidakpastian global—terutama konflik geopolitik dan harga energi—masih tinggi, skenario utama tetap: suku bunga ditahan lebih lama, dengan pemangkasan sebagai opsi kondisional, bukan kepastian.
Pada akhirnya, arah kebijakan sangat dipengaruhi oleh dinamika energi global, khususnya konflik AS–Iran. Jika ketegangan memicu lonjakan harga minyak dan inflasi tetap tinggi, skenario penahanan suku bunga akan lebih dominan bahkan bisa berlangsung lebih lama. Sebaliknya, jika konflik mereda dan harga energi stabil, tekanan inflasi berpotensi turun sehingga membuka ruang pemangkasan suku bunga secara bertahap di akhir tahun.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id