CPI Dingin, Fed Langsung Pangkas Lagi?
Federal Reserve (The Fed) menilai data ekonomi terbaru memberi sinyal inflasi mulai mereda, tetapi bank sentral belum terlihat ingin terburu-buru menambah pemangkasan suku bunga. Sikap utamanya masih “tunggu kepastian”, karena satu rilis data saja belum cukup untuk mengubah arah kebijakan.
Perhatian pasar tertuju pada inflasi AS bulan November yang lebih rendah dari perkiraan, dengan CPI di 2,7% (yoy) dan core CPI di 2,6% (yoy). Angka ini membuat harapan penurunan suku bunga di tahun depan kembali menguat, karena tekanan harga terlihat melandai.
Namun, data inflasi kali ini juga tidak dianggap “sebersih” biasanya. Proses pengumpulan data sempat terdampak shutdown pemerintah, sehingga sebagian pelaku pasar menilai hasilnya perlu dikonfirmasi oleh rilis-rilis berikutnya sebelum dijadikan dasar keputusan besar.
Di rapat terakhirnya, The Fed sudah menurunkan suku bunga ke kisaran 3,50%–3,75%. Meski begitu, nada komunikasi The Fed tetap hati-hati, menekankan bahwa langkah selanjutnya akan sangat bergantung pada konsistensi data inflasi dan kondisi ekonomi secara menyeluruh.
Dari sisi tenaga kerja, data klaim pengangguran mingguan yang masih relatif rendah memberi sinyal ekonomi belum melemah tajam. Ini menjadi alasan lain bagi The Fed untuk tidak tergesa-gesa, karena pemangkasan terlalu cepat berisiko memicu inflasi kembali menguat.
Karena kombinasi data yang “campur” ini, pasar cenderung melihat peluang besar The Fed akan menahan suku bunga dulu pada pertemuan terdekat, sambil tetap membuka ruang pemangkasan jika tren inflasi yang lebih rendah benar-benar berlanjut dan aktivitas ekonomi mulai mendingin.
Kesimpulannya, The Fed kemungkinan melihat data terbaru sebagai dukungan untuk pelonggaran yang bertahap, bukan pemangkasan agresif. Fokus berikutnya akan tertuju pada rangkaian data lanjutan—terutama inflasi dan sinyal daya beli—untuk memastikan apakah “inflasi dingin” ini benar-benar tren, atau hanya jeda sementara.(asd)
Sumber: Newsmaker.id