Gaji Jepang Naik 3,4%, BoJ Punya Alasan Bertindak
Newsmaker.id - Rata-rata pendapatan tunai pekerja Jepang tumbuh 3,4 persen secara tahunan pada Juni 2026 menjadi 531.677 yen per bulan. Pertumbuhan tersebut lebih cepat dibandingkan kenaikan Mei yang direvisi menjadi 3,3 persen sekaligus mempertahankan laju upah nominal di atas 3 persen selama lima bulan berturut-turut.
Upah riil yang telah disesuaikan dengan inflasi meningkat 1,6 persen secara tahunan. Kenaikan ini menjadi pertumbuhan selama enam bulan berturut-turut dan menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan mulai mampu melampaui tekanan harga yang dihadapi rumah tangga Jepang.
Komponen gaji pokok tumbuh 3,4 persen, meningkat dari 3 persen pada bulan sebelumnya. Upah lembur naik 2,8 persen, sementara pembayaran khusus yang sebagian besar terdiri dari bonus tumbuh 3,5 persen, meskipun melambat dari kenaikan 7,4 persen pada Mei.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa siklus kenaikan upah dan harga di Jepang semakin berkelanjutan. Bank of Japan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli, tetapi Gubernur Kazuo Ueda menyoroti risiko kenaikan inflasi yang membuka peluang pengetatan kebijakan kembali, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Dampak ke Market :
Data upah yang kuat cenderung menjadi sentimen positif bagi yen karena meningkatkan peluang kenaikan suku bunga BoJ. USD/JPY berpotensi mendapat tekanan turun apabila pasar semakin yakin bahwa bank sentral akan mengetatkan kebijakan.
Untuk saham Jepang, dampaknya dapat bercampur. Kenaikan daya beli masyarakat dapat mendukung saham berorientasi domestik, sedangkan potensi penguatan yen dan kenaikan biaya tenaga kerja bisa menekan saham eksportir. Imbal hasil obligasi Jepang juga berpeluang naik seiring meningkatnya ekspektasi pengetatan moneter.(CP)