Iran Serang Kapal, Kesepakatan Hormuz Diuji
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC dilaporkan menyerang kapal kargo berbendera Singapura pada Kamis. Insiden ini menjadi ujian besar bagi kesepakatan Amerika Serikat dan Iran yang baru ditandatangani pekan lalu untuk menghentikan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut.
Menurut dua pejabat senior Amerika Serikat, serangan itu dilakukan terhadap kapal kargo Ever Lovely yang sedang melintas di dekat kawasan Oman. Sebuah drone serangan satu arah disebut bermanuver ke sisi barat kapal sebelum menghantam bagian kapal. Serangan tersebut merusak jembatan kapal, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa maupun dampak lingkungan.
Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah angkatan laut paramiliter Iran memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan rute pelayaran yang belum disetujui oleh Teheran. Iran sebelumnya menegaskan bahwa keselamatan pelayaran di Selat Hormuz hanya akan dijamin jika kapal mengikuti jalur yang ditentukan oleh otoritas Iran.
Serangan tersebut juga membuat International Maritime Organization atau IMO menghentikan sementara operasi evakuasi kapal yang masih tertahan di Teluk Persia. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, mengatakan penghentian sementara dilakukan untuk memastikan kembali bahwa jaminan keselamatan masih berlaku bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi maupun kapal lain yang berada di kawasan tersebut.
Kesepakatan 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya mewajibkan Iran untuk berupaya menjamin keselamatan jalur komersial di Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberi pelonggaran terhadap penjualan minyak Iran. Bahkan, Washington disebut mengizinkan Teheran menjual minyaknya dalam dolar AS untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Namun, serangan terbaru ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan kesepakatan tersebut. Gedung Putih belum langsung memberikan komentar terkait dampak serangan terhadap perjanjian AS-Iran. Sementara itu, otoritas Iran yang dibentuk untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz menyatakan bahwa kapal yang melintas di luar rute yang ditentukan tidak akan mendapat jaminan keselamatan maupun perlindungan asuransi.
Sebelum serangan terjadi, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz sebenarnya mulai pulih. Data pelacak kapal menunjukkan sekitar 70 hingga 80 kapal berhasil melewati jalur tersebut pada Rabu, level tertinggi sejak perang dimulai. Kpler bahkan mencatat 70 kapal telah menyeberang, lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya, yang menandakan mulai kembalinya kepercayaan perusahaan pelayaran.
Namun, peringatan dari IRGC dan serangan terhadap Ever Lovely kembali menekan kepercayaan pasar. Kapal tersebut sebelumnya memuat kargo dari Umm Qasr, Irak, dan menuju Singapura. Data pelacakan kapal menunjukkan Ever Lovely sudah tertahan di kawasan Teluk selama lebih dari 100 hari sebelum akhirnya mencoba keluar melalui rute yang dikoordinasikan oleh IMO di sepanjang pesisir Oman.
Pada saat yang sama, IRGC juga menyebut beberapa tanker yang menggunakan rute selatan telah diperintahkan untuk berbalik arah. Perusahaan intelijen maritim Windward melaporkan sedikitnya lima kapal melakukan putar balik. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun jalur Hormuz mulai dibuka kembali, risiko operasional dan keamanan masih sangat tinggi.
Bagi pasar energi global, insiden ini menjadi sinyal bahwa premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari harga minyak. Jika lalu lintas kapal kembali terganggu, pasokan minyak dari Teluk Persia dapat terhambat dan mendorong harga minyak kembali naik. Sebaliknya, jika kesepakatan AS-Iran tetap bertahan dan rute pelayaran kembali aman, tekanan terhadap harga minyak berpeluang mereda.
Dengan perkembangan ini, Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian utama pasar global. Jalur tersebut bukan hanya penting bagi perdagangan minyak, tetapi juga menjadi simbol rapuhnya stabilitas geopolitik Timur Tengah. Serangan terhadap kapal berbendera Singapura menunjukkan bahwa kesepakatan diplomatik masih harus diuji di lapangan, terutama selama Iran dan negara-negara lain belum sepakat penuh mengenai siapa yang berhak mengatur jalur aman di kawasan tersebut.(yds)
Sumber: Newsmaker.id