Rubio: Deal Iran Butuh “Beberapa Hari”, Hormuz Jadi Titik Tekan Utama
Upaya negosiasi AS–Iran untuk mengakhiri konflik diperkirakan masih membutuhkan waktu, setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Selasa (26/5) bahwa kesepakatan bisa “memakan beberapa hari”. Pernyataan ini meredam harapan pasar akan terobosan cepat, sehari setelah AS melakukan serangan baru di Iran selatan yang disebut Washington bersifat defensif.
Rubio menggambarkan serangan itu menargetkan kapal yang diduga mencoba menebar ranjau serta lokasi peluncuran rudal. Ia menegaskan Selat Hormuz harus kembali terbuka “dengan cara apa pun”, menempatkan akses pelayaran sebagai prioritas strategis di tengah negosiasi yang masih berjalan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan pada Senin dilakukan untuk melindungi pasukan dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran, meski gencatan senjata telah berlaku sejak awal April. Dari pihak Iran, laporan media setempat menyebut Teheran menembak jatuh sebuah drone siluman “musuh” dengan sistem pertahanan udara baru, tanpa merinci asal drone tersebut.
Di saat ketegangan militer belum sepenuhnya mereda, kanal diplomasi tetap bergerak. Seorang pejabat yang mengetahui kunjungan Iran menyebut negosiator utama Iran dan menteri luar negerinya berada di Doha untuk pembicaraan dengan perdana menteri Qatar mengenai potensi kesepakatan dengan AS. Rubio sebelumnya mengatakan diplomasi akan diberi kesempatan penuh sebelum Washington mempertimbangkan langkah “cara lain”, seraya menyebut ada “proposal yang cukup solid” di meja perundingan terkait pembukaan kembali selat dan negosiasi nuklir yang “nyata, signifikan, dan berbatas waktu”.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan pembicaraan “berjalan baik” dalam unggahan panjang di Truth Social, namun memperingatkan potensi serangan baru bila pembicaraan gagal, menegaskan pendekatan yang menggabungkan tekanan dan diplomasi.
Pembahasan di Doha disebut mencakup dua pilar: operasional Selat Hormuz dan stok uranium yang diperkaya tinggi. Pejabat yang sama mengatakan gubernur bank sentral Iran turut hadir untuk membahas kemungkinan pelepasan dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan akhir. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan isu nuklir baru akan dinegosiasikan setelah kerangka kesepakatan disepakati, dan menambahkan bahwa rancangan kesepakatan belum memuat detail spesifik terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Baghaei mengatakan Iran tidak akan mengenakan tarif bagi kapal yang melintas, namun akan ada biaya untuk layanan seperti navigasi dan perlindungan lingkungan, di bawah protokol yang akan disepakati dengan Oman. Media Jepang Nikkei, mengutip sumber diplomatik kawasan, melaporkan AS dan Iran mendiskusikan rencana membuka selat sekitar 30 hari setelah tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan.
Di luar jalur AS–Iran, tensi kawasan juga meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel akan mengintensifkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon. Militer Israel kemudian mengatakan mereka menyerang infrastruktur Hezbollah di Lembah Bekaa dan wilayah lain. Meski Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata pada pertengahan April, Israel menyebut serangan udara tetap dilakukan sebagai tindakan bela diri terhadap Hezbollah, yang tidak menjadi pihak dalam gencatan senjata tersebut.
Bagi pasar, fokusnya tetap pada premi risiko energi. Setiap sinyal pembukaan kembali Hormuz berpotensi menurunkan ketidakpastian pasokan dan meredakan tekanan inflasi berbasis energi, sementara eskalasi militer dapat membalikkan narasi dengan cepat. Variabel yang perlu dipantau adalah perkembangan konkret dari pembicaraan Doha, detail kerangka negosiasi nuklir dan mekanisme dana beku, kepastian jadwal pembukaan selat, serta intensitas konflik lintas-front yang melibatkan Israel dan Hezbollah.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id