Negosiasi AS–Iran Tersendat di Nuklir dan Relief Keuangan
Progres menuju finalisasi kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan melambat pada Senin (25/5), menurut Wall Street Journal yang mengutip para mediator. Perlambatan ini terjadi di tengah perbedaan pandangan terkait program nuklir Iran serta tuntutan Teheran atas keringanan finansial sebagai bagian dari paket kesepakatan.
WSJ menyebut isu nuklir kembali menjadi hambatan utama dalam pembicaraan, sementara permintaan relief keuangan dipandang sensitif karena menyentuh langsung ruang gerak ekonomi dan legitimasi domestik kedua pihak. Kombinasi dua isu ini membuat jalur menuju kesepakatan akhir tidak lagi bergerak secepat ekspektasi pasar setelah muncul sinyal kemajuan pada akhir pekan.
Dari sisi politik domestik AS, Presiden Donald Trump juga dikabarkan menghadapi penolakan dari faksi garis keras di partainya. Kelompok ini menyuarakan kekhawatiran bahwa kesepakatan berisiko membiarkan program nuklir Iran tetap utuh sekaligus mengurangi tekanan finansial terhadap kepemimpinan Iran, sehingga menambah lapisan ketidakpastian terhadap proses ratifikasi maupun desain akhir perjanjian.
Bagi pasar, melambatnya negosiasi menjaga premi risiko geopolitik tetap “lengket”, terutama pada aset yang sensitif terhadap gangguan suplai energi dan perubahan persepsi risiko. Implikasinya, penurunan volatilitas energi dan pelemahan dolar yang sebelumnya dipicu harapan de-eskalasi dapat menjadi kurang berkelanjutan jika hambatan substantif ini berlarut.
Variabel yang dipantau berikutnya adalah detail kompromi terkait parameter nuklir, bentuk dan skala relief keuangan yang diminta Iran, serta sinyal dukungan politik domestik di AS yang menentukan apakah kesepakatan bisa melaju dari tahap prinsip ke tahap penandatanganan.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id