Tarif 25% Benar-Benar Akan Diterapkan? Korea Selatan
Korea Selatan telah kembali memasuki perundingan perdagangan baru dengan AS setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif barang-barang Korea. Sentimen ini mendorong Seoul untuk bertindak cepat, mencegah ancaman tarif tersebut benar-benar diterapkan.
Menteri Perindustrian Korea Selatan Kim Jung-kwan bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick di Washington, tetapi hari pertama perundingan tidak menghasilkan hasil yang signifikan. Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan negosiasi pada hari Jumat.
Pemicu utamanya adalah peringatan Trump bahwa tarif dapat mencapai 25% untuk impor Korea (yang dikatakan termasuk otomotif, kayu, dan farmasi), karena AS menganggap implementasi komitmen berdasarkan perjanjian sebelumnya berjalan lambat.
Dari perspektif Seoul, Kim menekankan bahwa Korea Selatan tetap berkomitmen untuk memenuhi janji investasinya dan mendorong peraturan (perundang-undangan) yang diperlukan untuk memfasilitasi investasi Korea yang lebih lancar di AS—salah satu poin utama Washington.
Isu ini juga sempat dikaitkan dengan investigasi Korea Selatan terhadap kebocoran data Coupang, tetapi para pejabat Korea Selatan menyatakan bahwa tarif tersebut tidak terkait dengan kasus itu.
Di luar tarif, tekanan lain juga muncul: AS juga menempatkan Korea Selatan di bawah pengawasan kebijakan makro/valuta asing, karena Korea tetap berada dalam "daftar pantauan" Departemen Keuangan (tanpa tuduhan manipulasi).
Langkah selanjutnya Korea Selatan adalah mengirim pejabat senior untuk meredakan situasi—termasuk pertemuan antara Menteri Perdagangan Yeo Han-koo dan negosiator perdagangan AS Jamieson Greer—sementara pasar menunggu untuk melihat apakah ancaman tarif hanyalah "alat tekanan" atau benar-benar menjadi kebijakan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id