Trump ke Iowa: Jual “Affordability”, Tapi Isu Minnesota Bikin Panas
Presiden AS Donald Trump tiba di Iowa pada Selasa (27/1), dengan misi jelas: mengunci lagi dukungan di wilayah Midwest yang bakal jadi medan penting jelang pemilu November. Tapi pesannya soal ekonomi dan “affordability” terancam ketutup oleh badai politik dari negara bagian tetangga, Minnesota.
Di Minnesota, situasi memanas setelah agen imigrasi federal menembak mati Alex Pretti, warga negara AS berusia 37 tahun, saat protes di Minneapolis pada Sabtu. Insiden ini memicu demonstrasi besar dan tuntutan investigasi independen. Ini juga jadi kasus kedua dalam bulan yang sama, di mana warga AS tewas ditembak petugas imigrasi di kota tersebut—sementara Trump sudah menurunkan ribuan agen bersenjata.
Masalahnya, Iowa sendiri lagi gak dalam kondisi “tenang”. Negara bagian ini adalah produsen terbesar jagung, babi, dan etanol di AS. Namun di pedesaan, keluhan soal biaya hidup bercampur dengan keresahan yang lebih nyata: harga komoditas lemah, sementara ongkos pupuk, benih, alat pertanian, dan peralatan naik. Ditambah lagi ketidakpastian arah kebijakan biofuel dan hubungan dagang dengan China.
Trump menang di Iowa dalam tiga pemilu presiden terakhir, tapi sebagian pendukung paling loyalnya sekarang lagi “kebakar” secara finansial. Seorang petani jagung dan ternak, Lance Lillibridge (56), bilang dirinya akan datang ke acara Trump meski kondisi lagi seret. Ia mengaku terpukul perang dagang dan biaya input yang naik, bahkan berharap pemerintah menyiapkan lagi paket bantuan besar untuk petani karena “cashflow lagi parah”.
Tim Trump diperkirakan bakal menekankan dukungan pemerintah untuk pertanian dan energi terbarukan, sambil membingkai agenda ekonominya sebagai upaya menekan harga makanan, bahan bakar, dan kebutuhan rumah tangga. Namun, data sentimen publik menunjukkan jalannya menanjak: survei Reuters/Ipsos yang selesai Minggu mencatat hanya 30% responden yang menyetujui cara Trump menangani biaya hidup, sementara 59% tidak setuju.
Tekanan juga datang dari industri biofuel. Pemerintah belum merampungkan kuota campuran biofuel untuk 2026 (RVO), belum final soal panduan pajak kredit bahan bakar terbarukan (45Z), dan upaya penjualan bensin E15 sepanjang tahun masih mandek. Dampaknya terasa keras di Iowa: produksi biodiesel 2025 turun jadi 244 juta galon, anjlok 31% dari 2024. Pelaku industri menyebut 2025 sebagai pukulan telak—karena kebijakan pajak dan kuota yang tidak jelas membuat banyak pabrik “berusaha bertahan dengan ujung jari” sambil menunggu kepastian dari Washington. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id