Geopolitik Putar Arah, Risiko Iran Mendadak Luntur
Iran tampaknya menghindari serangan AS untuk sementara, setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal “mundur selangkah” dari ancaman aksi militer terkait penindakan terhadap demonstran. Di saat yang sama, Teheran mencoba meredakan tekanan internasional dengan menegaskan tidak ada rencana eksekusi massal.
Trump mengatakan pada Rabu bahwa ia mendapat laporan kekerasan di Iran mulai mereda, dan menegaskan ia akan sangat kecewa jika penindakan kembali meningkat. Nada ini menjadi kontras dibanding awal pekan, ketika Trump secara terbuka mendorong warga Iran tetap turun ke jalan dan menyiratkan dukungan yang lebih keras terhadap gerakan protes.
Perubahan tone dari Washington langsung terasa di pasar. Harga minyak jatuh untuk pertama kali dalam enam hari, karena pasar memangkas kekhawatiran gangguan pasokan dari Iran dan negara-negara Teluk. Brent tercatat sempat terkoreksi tajam setelah reli sekitar sepekan terakhir yang ditopang “premi geopolitik”.
Dari sisi mobilitas, data pelacakan penerbangan menunjukkan lalu lintas udara kembali berjalan di wilayah Iran setelah penutupan sementara. Otoritas penerbangan setempat juga menyatakan penerbangan masuk dan keluar sudah kembali beroperasi, memberi sinyal bahwa fase paling tegang mereda—setidaknya untuk saat ini.
Padahal beberapa jam sebelumnya, situasi sempat mengarah ke skenario yang lebih berbahaya. Iran menutup wilayah udaranya ketika beredar laporan penyesuaian penempatan personel AS di kawasan, sementara sejumlah negara mengambil langkah berjaga-jaga, termasuk rencana pengetatan operasional diplomatik. Meski tensi sedikit turun, risiko eskalasi tetap membayangi dan bisa muncul kembali sewaktu-waktu.
Gelombang protes di Iran sendiri dilaporkan mulai menurun intensitasnya dibanding pekan lalu, saat ratusan ribu massa turun di berbagai kota menentang rezim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pemerintah Iran menegaskan mereka telah memulihkan kendali dan menuding campur tangan pihak luar sebagai pemicu kerusuhan.
Namun kelompok hak asasi manusia terus melaporkan angka korban jiwa dan penahanan yang tinggi, di tengah keterbatasan informasi karena pemadaman internet yang masih berlangsung di banyak wilayah. Kekhawatiran terbesar di mata komunitas internasional adalah potensi hukuman mati massal terhadap demonstran.
Di tengah tekanan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tampil di media AS dan menyampaikan penolakan tegas atas isu eksekusi. Ia menyatakan bahwa hukuman gantung tidak akan dilakukan, seraya menekankan bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada perang dan memperingatkan Washington agar tidak mengulangi langkah yang berujung pada eskalasi sebelumnya.
Relasi Iran–AS sendiri masih rapuh. Pembicaraan nuklir yang sempat dimediasi Oman pada Juni terhenti mendadak setelah eskalasi militer di kawasan, dan situasi makin rumit karena Iran membatasi akses inspeksi nuklir internasional. Di sisi lain, laporan penahanan massal masih muncul, sementara keputusan pengadilan yang membatalkan hukuman mati pada salah satu tersangka demonstran memberi sinyal bahwa isu eksekusi menjadi titik tekanan utama yang kini dipantau dunia. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id