Emas Melemah saat Dolar Menguat, Safe Haven Masih Dicari di Tengah Konflik Iran
Harga emas turun pada Selasa (3/2) seiring penguatan tajam dolar AS yang menekan logam mulia, sementara investor terus menilai eskalasi konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran gangguan pasokan minyak.
Emas spot melemah 3,7% ke $5.122,07 per ons, setelah sempat naik hingga sekitar 1% dan menyentuh $5.380,08 per ons pada awal sesi. Sementara itu, emas berjangka AS diperdagangkan 3,3% lebih rendah di $5.132,80 per ons. Pada sesi sebelumnya, emas tercatat menguat sekitar 1%.
Dari sisi sentimen, konflik Timur Tengah yang melebar masih menjaga minat terhadap aset safe haven. Emas—yang kerap diburu saat ketidakpastian geopolitik meningkat—tetap mendapat dukungan setelah akhir pekan diwarnai aksi militer besar di kawasan.
Namun, perkembangan yang sama juga mendorong dolar AS menguat, sehingga membatasi ruang kenaikan emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS, sekaligus memicu aksi ambil untung terbatas setelah reli sebelumnya.
Laporan menyebut pasukan AS dan Israel melancarkan serangan skala besar ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan senior. Iran kemudian membalas dengan rentetan serangan rudal di berbagai titik kawasan.
Konflik juga dikabarkan meluas melampaui wilayah Iran, termasuk serangan Israel ke Lebanon setelah serangan oleh Hezbollah, serta insiden yang dilaporkan terjadi di Kuwait ketika pertahanan udara setempat secara keliru menembak jatuh jet AS.
Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi tersebut berpotensi berlanjut selama beberapa pekan, serta mengakui adanya ketidakpastian di internal kepemimpinan Iran pasca kematian Khamenei—sebuah sinyal bahwa risiko instabilitas regional dapat bertahan lebih lama dan tetap menjadi penopang permintaan safe haven, meski pergerakan emas masih “ditahan” oleh kekuatan dolar.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id