Korban Protes Iran Bertambah, Teheran Abaikan Ancaman Trump
Jumlah korban tewas dalam gelombang protes di Iran dilaporkan melonjak tajam. Kelompok aktivis yang memantau situasi menyebut total kematian telah mencapai 2.571 orang hingga Rabu, naik drastis dari sekitar 500 di awal pekan. Angka ini masih sulit diverifikasi secara independen, namun memberi gambaran betapa kerasnya eskalasi di lapangan.
Situasi makin gelap karena Iran disebut memasuki hari keenam pemadaman internet nasional. Kondisi ini memutus banyak jalur komunikasi dan membuat dokumentasi kejadian menjadi sangat sulit, sehingga informasi di lapangan bergerak terbatas dan sering simpang siur.
Dari Washington, Presiden Donald Trump berulang kali menyampaikan dukungan kepada para pembangkang dan mendorong demonstrasi terus berlanjut. Ia juga menulis pesan “bantuan sedang dalam perjalanan” tanpa menjelaskan maksudnya, dan mengatakan akan “bertindak sesuai” setelah menilai jumlah demonstran yang tewas. Di saat bersamaan, muncul laporan bahwa Trump telah menerima pengarahan mengenai opsi-opsi tindakan terhadap Iran, ditambah ancaman tarif 25% untuk negara yang masih berbisnis dengan Teheran.
Tekanan geopolitik ini ikut mengguncang pasar energi. Harga minyak sempat terdorong naik karena kekhawatiran pasokan Iran terganggu, meski pada Rabu Brent mulai memangkas kenaikan dan bergerak kembali ke sekitar $65 per barel setelah reli empat hari yang sangat kuat. Di dalam negeri, otoritas Iran menuduh pihak luar ikut memicu kerusuhan, sementara negara-negara Teluk disebut mendorong AS agar menghindari opsi serangan.
Sementara itu, pemerintah Iran mengisyaratkan penindakan akan makin keras: ada ancaman penyitaan aset bagi pihak yang disebut “perusuh”, serta dorongan agar pelaku kekerasan diadili cepat. Kelompok aktivis juga melaporkan lebih dari 18.000 penahanan, termasuk sebagian korban yang masih di bawah 18 tahun, dan ada kekhawatiran sebagian tahanan akan dijerat tuduhan berat yang dapat berujung hukuman mati. Di tengah ketidakpastian ini, perhatian dunia kini tertuju pada dua hal: apakah Iran akan membuka kembali akses internet, dan apakah AS benar-benar akan menaikkan eskalasi dari ancaman menjadi aksi.(alg)
Sumber: Newsmaker.id