AS Mediasi Gencatan Senjata Israel-Iran, Iran Tetap Waspada
Upaya diplomatik untuk meredam ketegangan di Timur Tengah mencapai titik penting ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Iran. Pengumuman mengejutkan ini disampaikan melalui platform Truth Social hanya beberapa hari setelah serangan udara AS menghantam fasilitas nuklir Iran. Trump menyatakan bahwa kedua negara telah setuju untuk menghentikan permusuhan, dengan harapan mencapai solusi damai yang lebih permanen.
Pemerintah Israel segera merespons positif pernyataan Trump. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa negaranya telah setuju untuk menghentikan operasi militer setelah "tujuan utama" mereka tercapai, yakni menghancurkan ancaman nuklir dan rudal Iran. Israel juga menegaskan bahwa mereka bersedia mempertahankan gencatan senjata selama Iran juga menahan diri.
Namun, respons dari Teheran lebih berhati-hati. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa belum ada kesepakatan final dari pihaknya, dan bahwa Iran hanya akan menghentikan operasi militer sementara selama 24 jam dengan syarat Israel benar-benar berhenti menyerang lebih dulu. Iran juga menolak negosiasi di bawah tekanan dan meminta jaminan bahwa kesepakatan ini tidak akan dilanggar dalam waktu dekat.
Selain itu, Teheran juga melibatkan negara-negara Teluk seperti Qatar, Oman, dan Arab Saudi untuk menekan AS agar memastikan Israel mematuhi gencatan senjata. Iran menegaskan bahwa mereka bersedia membuka ruang diplomasi, termasuk soal nuklir, jika situasi mereda dan serangan berhenti total. Untuk saat ini, Iran memilih tetap siaga, menjaga posisi tawar, sambil memantau apakah Israel akan benar-benar mematuhi perjanjian yang telah disampaikan oleh Trump.(ayu)
Sumber: Newsmaker