Diplomasi Muncul, Perang AS-Iran Belum Reda
AS dan Iran sama-sama memberi sinyal masih terbuka untuk negosiasi, meski kedua negara kembali saling melancarkan serangan pada Senin. Sinyal diplomasi ini muncul di tengah konflik yang sudah berlangsung lebih dari sepekan dan semakin sulit dikendalikan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran telah memberi sinyal ingin berunding, baik secara langsung maupun melalui mediator. Ia menyebut Washington tetap membuka pintu diplomasi, tetapi menegaskan bahwa perilaku Iran harus berubah jika ingin melihat perubahan sikap dari AS.
Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengatakan Teheran telah menerima proposal baru dari mediator. Proposal tersebut disebut bertujuan mencegah eskalasi ketegangan lebih jauh, meski Iran belum memberikan rincian isi usulan tersebut.
Namun, peluang negosiasi masih belum terlihat dekat. Gencatan yang dicapai bulan lalu sudah terguncang oleh serangan baru, sementara kedua pihak tetap berebut pengaruh atas Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dan gas dunia.
Ketegangan makin meningkat setelah Iran disebut menargetkan kapal yang melewati rute dekat Oman. Garda Revolusi Iran menyatakan dua tanker minyak meledak dan berhenti bergerak setelah mencoba melintasi jalur yang sebelumnya telah diperingatkan oleh Teheran.
Dampaknya ke market, kabar diplomasi bisa menahan lonjakan harga minyak dalam jangka pendek. Namun, selama Selat Hormuz masih menjadi sumber konflik dan kapal tanker tetap terancam, harga minyak berpotensi tetap volatil. Dolar AS masih bisa ditopang sentimen safe haven, sementara emas berpeluang menguat terbatas karena pasar juga mencemaskan inflasi energi dan suku bunga tinggi.(arl)
Sumber : Newsmaker.id