• Tue, May 26, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

26 May 2026 07:46  |

Negosiasi Jalan, Tapi Mengapa Kapal Iran Diserang di Hormuz?

Laporan serangan udara AS dan Israel terhadap sejumlah kapal Iran di Selat Hormuz muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Teheran mengenai kesepakatan sementara “berjalan dengan baik.” Perkembangan ini menyatakan bahwa jalur menuju pembukaan kembali Hormuz masih dalam bayangan risiko eskalasi.

Media pemerintah Iran, Nour News, melaporkan serangan yang terjadi di selatan Pulau Larak di Selat Hormuz dan mengecewakan beberapa personel Iran, tanpa izin lebih lanjut. Insiden tersebut terjadi saat pasar berharap gencatan senjata yang ada dapat berkembang menjadi gencatan yang lebih panjang dan membuka kembali jalur pelayaran energi paling krusial di kawasan.

Kembalinya bentrokan di Teluk Persia menyoroti rapuhnya gencatan senjata AS-Iran. Selat Hormuz praktis “nyaris tertutup” sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, yang memicu guncangan energi dan mendorong tekanan inflasi global, seiring perhitungan ulang risiko pasokan minyak dan gas.

Di sisi diplomasi, Trump juga mengirim Arab Saudi, Qatar, dan negara lain untuk bergabung dalam Abraham Accords dan mengakui Israel. Ia juga menyampaikan bahwa uranium yang diperkaya milik Iran akan diserahkan kepada AS atau, menurut preferensinya, dihancurkan di Iran.

Ketegangan regional juga meluas ke Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan meningkatkan serangan terhadap Hizbullah setelah serangan ke sejumlah lokasi di Lebanon selatan. Eskalasi itu menyusul serangan drone Hizbullah yang mendarat di wilayah Israel dan sebuah roket yang ditembakkan ke arah Israel namun berhasil dicegat.

Bagi Iran, permusuhan terhadap Hizbullah menjadi syarat dalam setiap perjanjian damai dengan AS. Aksio yang melaporkan potensi rancangan perjanjian AS-Iran mencakup bahasa yang berakhir pada berakhirnya perang antara Israel dan Hizbullah, namun dinamika militer di lapangan menunjukkan jalur negosiasi masih sangat sensitif terhadap kejadian keamanan di kawasan.

Eskalasi di Hormuz cenderung mengangkat premi risiko pasokan energi sehingga minyak berpotensi atau setidaknya lebih volatil, sementara dampaknya ke emas lebih campuran: emas bisa tertopang sebagai aset lindung nilai saat risiko geopolitik naik, tetapi ruang penguatan dapat terbatas bila tambahan energi kembali mendorong kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga lebih tinggi. Untuk dolar AS, biasanya ditentukan tarik-menarik antara permintaan safe haven (mendukung dolar) dan perubahan ekspektasi kebijakan; dalam konteks headline Hormuz, pasar umumnya akan lebih sensitif pada apakah risiko ini memperpanjang gangguan energi atau justru membuka jalan de-eskalasi melalui kesepakatan.(asd)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

China Konfirmasi Kunjungan Trump, Pasar Siaga!

Tiongkok mengumumkan rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pada 13–15 Mei, dengan agenda pertemuan tingkat...

11 May 2026 08:12
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai